HPI Ende Dorong Guide Profesional Jaga Budaya Wisata
- 31 Agt 2026 16:10 WIB
- Ende
Poin Utama
- HPI Cabang Ende menjadi wadah peningkatan kapasitas dan profesionalisme pemandu wisata.
- Guide senior berperan membimbing anggota pemula mengenai pelayanan, etika, dan kemampuan dasar bahasa Inggris.
- Pemandu wisata dituntut mampu menyampaikan storytelling mengenai sejarah, budaya, tradisi, dan kepercayaan masyarakat lokal.
- Pemahaman aturan adat dan keselamatan wisatawan menjadi bagian penting tugas pramuwisata.
- Tantangan pariwisata Ende meliputi pengelolaan sampah, akses jalan, fasilitas, serta kesiapan masyarakat.
- Kain tenun Ende dinilai memiliki potensi besar sebagai produk budaya sekaligus ekonomi kreatif.
- Pengembangan pariwisata membutuhkan kolaborasi pemerintah, komunitas, masyarakat, dan pelaku usaha.
RRI.CO.ID, Ende - Himpunan Pramuwisata Indonesia Cabang Ende mendorong peningkatan kualitas pemandu wisata melalui keterampilan, etika, keselamatan, dan pemahaman budaya lokal. Hal itu disampaikan Cahyadi, anggota HPI Ende, dalam perbincangan mengenai tantangan pariwisata dan profesionalisme pramuwisata daerah saat ini di Pro Dua RRI Ende, Kamis 16 Juli 2026.
HPI menjadi wadah nasional para pemandu wisata, termasuk Komunitas GB Kota Ende, untuk berbagi pengetahuan dan pekerjaan bersama. Menurut Cahyadi, anggota senior membimbing pemula memahami pelayanan wisatawan, etika lingkungan, sekaligus membangun kemampuan bahasa Inggris dasar mereka.
“Pemandu harus mampu bercerita, bukan sekadar menunjukkan tempat, karena wisatawan mancanegara ingin memahami makna budaya dibalik destinasi lokal.” katanya. Karena itu, pemandu wajib memahami aturan adat, menjaga keselamatan wisatawan, serta menjelaskan cerita lokal secara menarik kepada wisatawan.
Standar pelayanan mencakup penampilan rapi, kebersihan diri, keramahan, dan batas profesional ketika mendampingi wisatawan reguler maupun kapal pesiar. “Kami ingin wisatawan pulang membawa pengalaman, cerita, dan penghargaan terhadap budaya lokal, bukan hanya foto dari destinasi berharga.” ujar Cahyadi.
Di Danau Kelimutu, misalnya, pemandu dapat menjelaskan tradisi Pati Ka Du'a Bapu Ata Mata serta kepercayaan masyarakat setempat. Selain kemampuan pemandu, tantangan pariwisata Ende mencakup sampah, akses jalan, fasilitas terbatas, serta kesiapan masyarakat menerima wisatawan luar.
Cahyadi juga menekankan prinsip ekowisata melalui pesan tidak mengambil selain foto, tidak membunuh selain waktu, dan meninggalkan jejak. Untuk promosi, Cahyadi memilih kain tenun Ende karena setiap motif memiliki cerita, nilai budaya, serta potensi ekonomi kreatif.
Tenun pewarnaan alami, termasuk produksi Kampung Jopu, dinilai menarik wisatawan peduli lingkungan meskipun membutuhkan proses panjang dan ketelitian. Ke depan, pembangunan pariwisata Ende membutuhkan kolaborasi pemerintah, komunitas, masyarakat, dan pelaku usaha dengan fasilitas pendukung yang memadai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....