Catatan Impresif Ekowisata Berbasis Komunitas di Desa Wisata Air Terjun Wae Lolos

  • 08 Jun 2026 14:11 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID,Manggarai Barat , Di balik rimbunnya vegetasi hijau lereng Gunung Mbeliling, suara gemuruh air jatuh saling bersahutan membentuk simfoni alam yang memukau. Desa Wisata Seribu Air Terjun Wae Lolos yang terletak di Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, kini perlahan menjelma menjadi salah satu magnet baru pariwisata berbasis alam dan komunitas di ujung barat Pulau Flores.

Julukan "Seribu Air Terjun" bukan sekadar slogan promosi wisata. Keindahan alam yang dimiliki desa ini telah menjadi daya tarik nyata yang berhasil memikat ribuan wisatawan dari berbagai belahan dunia. Sepanjang lima bulan pertama tahun 2026, destinasi ekowisata ini mencatatkan capaian kunjungan yang sangat menggembirakan.

Ketua Pokdarwis Desa Wisata Seribu Air Terjun Wae Lolos, Robert Perkasa, mengatakan pertumbuhan kunjungan wisatawan menjadi bukti semakin meningkatnya minat wisatawan terhadap destinasi yang menawarkan pengalaman budaya dan alam yang masih terjaga. "Ini adalah hasil kerja bersama seluruh masyarakat yang terus berkomitmen menjaga hutan, air, budaya, dan keramahtamahan desa. Kami bersyukur Wae Lolos semakin dikenal sebagai destinasi ekowisata berbasis komunitas," ujarnya.

Berdasarkan data resmi Pokdarwis Cunca Plias periode 1 Januari hingga 31 Mei 2026, Desa Wisata Wae Lolos berhasil mendatangkan sebanyak 6.738 pengunjung. Angka tersebut menjadi bukti nyata bahwa tren pariwisata global kini semakin mengarah pada destinasi yang menawarkan ketenangan alam, keberlanjutan lingkungan, dan pengalaman budaya yang otentik.

Yang paling menarik adalah dominasi wisatawan mancanegara yang mencapai 4.270 orang atau 63,4 persen dari total kunjungan. Sementara itu, wisatawan lokal tercatat sebanyak 1.620 orang atau 24 persen, sedangkan wisatawan nusantara mencapai 848 orang atau 12,6 persen.

Dinamika kunjungan wisatawan sepanjang lima bulan pertama tahun ini menunjukkan tren yang cukup positif. Pada Januari, momentum libur awal tahun mendorong kunjungan mencapai 1.945 wisatawan.

Wisatawan mancanegara tercatat sebanyak 1.047 orang, sedangkan wisatawan lokal mencapai 604 orang. Memasuki Februari, kunjungan mengalami penurunan menjadi 705 wisatawan akibat tingginya intensitas hujan yang melanda wilayah Manggarai Barat.

Kondisi ini merupakan fenomena yang lazim terjadi dalam siklus pariwisata atau low season. Memasuki Maret dan April, tren kunjungan kembali meningkat. Pada Maret tercatat 1.091 wisatawan, sementara April mencapai 1.102 wisatawan.

wisatawan mancanegara tetap terlihat kuat selama periode tersebut. Puncak pertumbuhan terjadi pada Mei 2026. Sebanyak 1.884 wisatawan berkunjung ke Wae Lolos, dengan 1.386 orang di antaranya merupakan wisatawan mancanegara, menjadi rekor tertinggi sepanjang periode pengamatan.

Lonjakan ini menandai dimulainya musim perjalanan pertengahan tahun bagi wisatawan internasional yang berkunjung ke Flores. Berkembangnya sektor pariwisata memberikan dampak ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat desa.

Di berbagai pondok bambu sederhana dan kios milik warga yang tersebar di sekitar kawasan wisata, wisatawan tampak menikmati suasana pedesaan yang tenang sambil menyaksikan panorama hutan tropis yang masih asri. Beragam hasil kebun lokal menjadi sajian favorit para pengunjung.

Kelapa muda segar, nanas, pisang, durian, markisa hingga kopi lokal menjadi bagian dari pengalaman wisata yang mempertemukan wisatawan dengan kekayaan alam Wae Lolos. Perputaran ekonomi yang tercipta tidak hanya berasal dari penjualan makanan dan minuman, tetapi juga dari jasa pemandu wisata, transportasi lokal, penginapan, serta penjualan produk-produk unggulan desa.

Salah satu kekuatan utama Desa Wisata Wae Lolos terletak pada penerapan konsep Community-Based Tourism (CBT) atau Pariwisata Berbasis Komunitas. Dalam model ini, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, melainkan menjadi pelaku utama pengembangan pariwisata.

Warga terlibat sebagai pemandu wisata (tour guide), pengelola jalur trekking, penyedia homestay berbasis rumah warga, hingga pelaku usaha mikro yang menjual hasil bumi dan kerajinan lokal.

Berbagai komoditas unggulan desa seperti kopi, vanili, kemiri, kulit kayu manis, cengkeh, serta produk olahan lainnya kini menjadi buah tangan favorit wisatawan yang berkunjung ke Wae Lolos.

"Pariwisata di sini tidak mengubah kami menjadi orang lain. Kami tetap petani dan penjaga hutan. Namun sekarang alam yang kami rawat memberikan berkah tambahan bagi pendidikan anak-anak kami dan kesejahteraan keluarga," ungkap salah seorang pengelola lokal.

Model pembangunan semacam ini menjadi contoh bagaimana sektor pariwisata dapat berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Menatap Masa Depan Berkelanjutan

Meski capaian lima bulan pertama tahun 2026 sangat menggembirakan, tantangan ke depan tetap memerlukan perhatian bersama.

Fluktuasi kunjungan akibat faktor cuaca menjadi salah satu aspek yang perlu diantisipasi. Pengembangan paket wisata edukasi pertanian, wisata budaya, pelatihan kerajinan lokal, hingga festival berbasis komunitas dapat menjadi alternatif untuk menjaga stabilitas kunjungan selama musim hujan.

Keberhasilan Desa Wisata Seribu Air Terjun Wae Lolos membuktikan bahwa modal utama sebuah destinasi bukanlah kemegahan infrastruktur modern, melainkan komitmen menjaga kelestarian alam, mempertahankan identitas budaya, serta menghadirkan keramahan yang tulus kepada setiap tamu yang datang.

Dengan total 6.738 perjalanan wisata yang tercatat hingga Mei 2026, Wae Lolos kini tidak lagi sekadar destinasi alternatif di Manggarai Barat. Desa ini telah menjelma menjadi simbol ketahanan ekologis, kemandirian ekonomi masyarakat, dan keberhasilan pembangunan pariwisata berbasis komunitas.

Wae Lolos menghadirkan sebuah inspirasi nyata bahwa sebuah desa dapat tumbuh, berkembang, dan berdaulat melalui kekayaan alam serta budaya yang dimilikinya sendiri. Di tengah derasnya arus pembangunan pariwisata modern, Wae Lolos menunjukkan bahwa masa depan pariwisata Indonesia dapat dibangun dari desa, oleh masyarakat, dan untuk kesejahteraan bersama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....