BPOLBF Waspadai Tren One Day Tour Labuan Bajo, Dorong Wisatawan Tinggal Lebih Lama

  • 01 Apr 2026 14:50 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menaruh perhatian serius terhadap tren kunjungan wisatawan yang semakin singkat atau one day tour di Labuan Bajo. Fenomena ini dinilai berpotensi mengurangi perputaran ekonomi di sektor darat, karena wisatawan cenderung hanya berfokus pada destinasi wisata bahari.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, mengungkapkan bahwa kemudahan akses transportasi serta maraknya layanan kapal cepat (speedboat) turut mendorong pola kunjungan yang serba singkat.

“Sekarang banyak wisatawan melakukan one day tour. Tiba hari ini, besok pagi langsung ke Pulau Padar, melihat Komodo, ke Pink Beach, sorenya kembali, dan keesokan harinya sudah terbang lagi. Ini fenomena yang terjadi saat ini,” ujar Andhy dalam diskusi Sunset Talk di Labuan Bajo, di Amfiteater Mawatu, Labuan Bajo, Minggu 29 Maret 2026.

Menurutnya, tren tersebut menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan pariwisata. Jika wisatawan hanya datang untuk melihat Komodo tanpa mengeksplorasi pengalaman lain, maka potensi kunjungan ulang (repeat visit) dikhawatirkan akan menurun.

Dirinya berkaca pada sejumlah destinasi wisata nasional yang sempat populer, namun mengalami penurunan karena hanya mengandalkan satu daya tarik tanpa inovasi produk wisata.

“Jangan sampai wisatawan merasa cukup sekali datang karena hanya melihat Komodo. Kita harus mengantisipasi agar Labuan Bajo tidak mengalami penurunan seperti daerah lain yang kehilangan daya tarik atau mengalami kerusakan lingkungan,” ucapnya.

Sebagai langkah antisipasi, BPOLBF mendorong diversifikasi produk pariwisata yang tidak hanya berfokus pada alam dan bahari, tetapi juga mengangkat potensi budaya dan kearifan lokal di desa-desa wisata.

“Pembeda kita dengan daerah lain adalah budaya dan kearifan lokal Manggarai Barat. Kami mendorong desa wisata berkembang dengan local champion, seperti sanggar seni. Minimal, ada atraksi yang bisa dinikmati wisatawan, baik tarian maupun kuliner lokal,” ujarnya.

Upaya tersebut juga diwujudkan melalui aktivasi ruang kreatif di kawasan Parapuar, salah satunya lewat penyelenggaraan kegiatan rutin “Weekend at Parapuar”. Program ini menjadi wadah bagi sanggar seni dari desa wisata untuk tampil dan dikenal lebih luas, termasuk oleh pelaku industri perhotelan dan restoran.

“Kami ingin sanggar seni bisa mandiri secara bisnis. Sejak tampil di Parapuar, beberapa sudah mulai dikenal dan mendapat undangan tampil dari hotel maupun instansi. Dengan begitu, manfaat pariwisata tidak hanya dirasakan di laut, tetapi juga oleh masyarakat di darat,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....