Filosofi “Kopi tanpa Gula” PGWI: Pentingnya Storytelling Pemandu Geowisata

  • 11 Mar 2026 04:46 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Keindahan bentang alam di Labuan Bajo dinilai perlu diimbangi dengan kemampuan bercerita yang kuat dari para pemandu wisata. Melalui pendekatan geowisata, para pemandu didorong tidak hanya menunjukkan destinasi, tetapi juga menyampaikan kisah ilmiah, budaya, dan sejarah yang membuat pengalaman wisata menjadi lebih bermakna.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Nasional Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Deni Suganda, yang menggambarkan pentingnya narasi dalam pariwisata melalui filosofi sederhana “kopi tanpa gula”.

Menurut Deni, destinasi wisata tanpa narasi yang kuat akan terasa hambar dan kurang meninggalkan kesan bagi wisatawan.

“Ibarat kopi, kalau tanpa gula itu pahit. Tapi kalau kita minum kopi dan ada ceritanya, ia akan terasa semakin manis dan tentunya semakin mahal,” ujar Deni saat memberikan sambutan pembukaan kegiatan Diklat Angkatan I Pemandu Geowisata yang diselenggarakan Persatuan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI) DPW Labuan Bajo di Puncak Waringin, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Senin 9 Maret 2026..

Ia juga menyampaikan, peran pemandu geowisata tidak sebatas menunjukkan lokasi wisata. Lebih dari itu, pemandu harus mampu merangkai cerita dari bentang alam, proses geomorfologi, budaya, hingga sejarah masyarakat setempat menjadi sebuah storytelling yang menarik.

Deni menilai wisatawan saat ini tidak hanya datang untuk melihat keindahan alam, tetapi juga ingin memahami proses di balik terbentuknya suatu tempat. Misalnya, perbukitan di Flores tidak hanya dilihat sebagai lanskap indah, tetapi juga dapat dijelaskan sebagai hasil aktivitas vulkanik yang terjadi jutaan tahun lalu.

Guna memperkuat kapasitas pemandu lokal, PGWI mendorong pelaksanaan program pendidikan dan pelatihan (diklat). Melalui program ini, para pemandu dibekali kemampuan menggali informasi ilmiah, sejarah, dan budaya untuk disampaikan kepada wisatawan secara menarik dan mudah dipahami.

Kemampuan storytelling dinilai dapat meningkatkan daya saing pariwisata Labuan Bajo. Dengan narasi yang kuat, destinasi tidak hanya menawarkan pemandangan, tetapi juga pengalaman intelektual dan emosional bagi wisatawan.

Dirinya menyebut pendekatan ini berpotensi memberikan sejumlah dampak positif, di antaranya meningkatkan durasi kunjungan wisatawan, menaikkan nilai ekonomi jasa pemandu, serta menumbuhkan kesadaran konservasi karena wisatawan lebih memahami sejarah dan nilai lingkungan yang mereka kunjungi.

“Kita punya pekerjaan rumah besar untuk membungkus semua keindahan ini dalam sebuah narasi. Itulah inti dari geowisata,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....