SiOra TN Komodo Tembus Versi ke-32 dalam Setahun
- 18 Feb 2026 19:19 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Pengelolaan wisata di Taman Nasional (TN) Komodo kian mengedepankan sistem digital yang adaptif. Balai Taman Nasional komodo (BTNK) mencatat, aplikasi SiOra (Sistem Informasi Operasional Wisata) yang digunakan untuk mengatur kunjungan wisatawan telah diperbarui hingga versi ke-32 meski belum genap satu tahun diluncurkan.
Kepala BTNK, Hendrikus Rani Siga, mengatakan tingginya frekuensi pembaruan tersebut mencerminkan respons cepat pengelola terhadap dinamika di lapangan serta masukan dari publik dan pelaku usaha wisata.
“Perkembangan SiOra sangat dinamis. Belum satu tahun berjalan, saat ini sudah memasuki versi ke-32. Ini menunjukkan tingginya respons publik sekaligus komitmen kami untuk terus menyempurnakan sistem,” ujar Hendrikus dalam kegiatan rapat koordinasi multi stakeholder, yang digelar Badan Peduli Kawasan Taman Nasional Komodo dan Perairan Sekitarnya (BPTNK PS), Rabu 18 Februari 2026.
Menurutnya, setiap pembaruan versi menghadirkan penyesuaian signifikan, baik dari sisi teknis maupun fitur layanan. SiOra menjadi instrumen penting dalam mendukung kebijakan pengaturan kuota kunjungan wisatawan yang diterapkan pemerintah guna menjaga kelestarian ekosistem kawasan konservasi tersebut.
Hendrikus mengakui, penerapan sistem digital tidak lepas dari tantangan teknis. Namun, transformasi digital dinilai sebagai langkah strategis yang tidak dapat dihindari dalam tata kelola destinasi super prioritas.
“Kami menyadari tidak semua sistem berjalan sempurna sejak awal. Namun, kami terus berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi pengunjung maupun pelaku usaha wisata,” katanya.
Selain memastikan peningkatan kualitas sistem, BTNK juga memberikan kepastian operasional bagi pelaku wisata. Hendrikus juga menegaskan, tidak akan ada lagi penutupan kawasan secara mendadak, terutama untuk mengantisipasi kedatangan kapal-kapal wisata dari luar daerah seperti Bali, Lombok, dan Sape yang telah berlayar menuju kawasan.
Ia menambahkan, setiap persoalan teknis, baik yang berkaitan dengan aplikasi maupun operasional di lapangan, akan diselesaikan melalui komunikasi dan koordinasi bersama para pemangku kepentingan.
“Kami terbuka terhadap masukan. Tujuannya agar pelayanan wisata tetap berjalan optimal tanpa mengesampingkan prinsip konservasi,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....