HPI Mabar Dorong Integrasi dan Basis Data Terpadu
- 13 Des 2025 16:04 WIB
- Ende
KBRN, Manggarai Barat: Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Manggarai Barat, Aloysius Suhartim Karya, menyampaikan pentingnya konsolidasi internal pelaku pariwisata sebagai langkah awal membenahi sektor pariwisata di daerah tersebut.
Menurutnya, fokus utama yang tengah dilakukan adalah penguatan basis data pelaku pariwisata melalui Sekretariat Bersama, yang mewadahi 15 asosiasi pariwisata di Manggarai Barat. Konsolidasi data ini dinilai krusial agar setiap kebijakan dan langkah ke depan benar-benar berbasis data yang akurat.
“Konsentrasi pertama kami adalah bagaimana secara internal kami solid, dimulai dari penguatan basis data. Dalam waktu dekat, Sekretariat Bersama akan mengonsolidasikan database dari 15 asosiasi, dengan estimasi jumlah pelaku pariwisata mencapai kurang lebih 10 ribu orang,” kata Aloysius, saat ditemui media usai peresmian Gedung Sekretariat Bersama Asosiasi Pariwisata Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (13/12/2025).
Ia juga menyoroti komitmen asosiasi pariwisata dalam mendukung pemerintah daerah, khususnya dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun demikian, Aloysius menilai selama ini terdapat ketidakseimbangan antara tingginya jumlah kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo dengan kontribusi PAD yang diterima daerah.
“Jika dibandingkan antara Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di kawasan Komodo dengan pendapatan daerah, terlihat adanya ketidaksimetrisan. Ini menjadi kegelisahan kami sebagai pelaku pariwisata dan masyarakat Manggarai Barat,” katanya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah belum terintegrasinya seluruh pemangku kepentingan pariwisata. Disintegrasi ini, lanjutnya, turut memicu berbagai persoalan di lapangan, termasuk praktik penipuan oleh oknum pelaku wisata yang kerap menyulitkan penelusuran dan pertanggungjawaban.
“Tidak ada cara lain untuk mengakhiri kompleksitas persoalan pariwisata selain dengan mengintegrasikan seluruh pemangku kepentingan, terutama para pimpinan asosiasi. Kami ingin membangun komitmen bersama untuk menghentikan praktik-praktik yang merugikan,” ujar Aloysius.
Selain integrasi, dirinya juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia pelaku pariwisata sesuai dengan standar Sertifikasi Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Dengan demikian, pelaku pariwisata diharapkan mampu menghadirkan layanan berkualitas dan meninggalkan kesan positif bagi wisatawan.
Ia menyoroti, pengembangan pariwisata Manggarai Barat yang tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi semata, tetapi juga harus memperhatikan pemberdayaan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
“Kami menaruh perhatian serius pada aspek lingkungan. Saat ini, kawasan Tanjung Seneng Komodo sebagai core destinasi wisata Labuan Bajo mulai mengalami degradasi. Pengaturan daya dukung atau carrying capacity harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Aloysius berharap, melalui langkah-langkah integrasi dan penguatan komitmen tersebut, pariwisata Manggarai Barat dapat tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang.
“Yang kita jual di sini adalah alam yang murni. Pariwisata harus dijaga agar tidak hanya bertahan lima sampai sepuluh tahun, tetapi bisa berlangsung selamanya,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....