Festival Pangan dan Budaya NTT Hadir di Ende
- 24 Okt 2025 09:47 WIB
- Ende
KBRN, Ende: Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan akan menggelar Festival Pangan Lokal dan Budaya tahun 2025 di Kabupaten Ende. Kegiatan yang berlangsung pada 30–31 Oktober ini menjadi ajang untuk memperkuat kedaulatan pangan sekaligus melestarikan kekayaan budaya daerah.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Billy Oemboe Wanda, mengatakan bahwa festival ini dilandasi semangat untuk menjadikan pangan sebagai jati diri dan harga diri bangsa. Menurutnya, kedaulatan pangan merupakan fondasi penting bagi ketahanan ekonomi dan kemandirian daerah.
“Pangan bukan sekadar kebutuhan hidup, tapi juga simbol harga diri bangsa. Kalau pangan berdaulat, maka kuatlah negara itu,” ujar Joaz Billy dalam wawancara bersama RRI, Jumat (24/10/2025).
Ia menjelaskan, penyelenggaraan festival ini merupakan bagian dari visi pembangunan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, yakni menggerakkan ekonomi daerah melalui sektor pertanian dan ketahanan pangan. Tema kegiatan tahun ini adalah “Melestarikan Rasa, Menjaga Keberagaman Budaya” dengan subtema “Merajut Kisah Pangan Lokal dari Ladang ke Meja.”
Pemilihan Kabupaten Ende sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. Joaz Billy menyebut, wilayah ini memiliki kekayaan pangan lokal dan keragaman budaya yang luar biasa, mulai dari ubi nuabosi, padi lokal berketahanan tinggi, hingga hasil perkebunan dan rempah yang menjadi ciri khas masyarakatnya.
“Ende punya warisan pangan yang kaya dan kuat. Dari sini, kita ingin menampilkan bahwa pangan lokal juga bisa menjadi kekuatan ekonomi sekaligus kebanggaan budaya,” ujarnya.
Festival ini juga diharapkan menjadi wadah bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas akses pasar dan memperkenalkan produk pangan unggulan daerah. Kegiatan ini akan diikuti peserta dari seluruh wilayah Pulau Flores dengan menampilkan berbagai olahan pangan lokal dan atraksi budaya.
Menurut Joaz Billy, pengembangan pangan lokal harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu ke hilir, mulai dari proses budidaya, pengolahan, hingga pemasaran. Dengan demikian, produk pertanian lokal tidak hanya bernilai budaya tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang nyata bagi petani dan pelaku usaha kecil.
“Harapannya, UMKM pangan lokal bisa naik kelas dan menjadi bagian dari rantai ekonomi yang berkelanjutan. Ini juga sejalan dengan misi kami untuk membangun NTT dari ladang dan laut menuju pasar,” ucapnya.
Lebih dari sekadar seremoni, Joaz Billy menegaskan bahwa festival ini menjadi momentum untuk membangun kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, agar mencintai dan mengonsumsi pangan lokal. Ia menilai, pelestarian pangan tradisional adalah bagian dari upaya menjaga sejarah dan identitas daerah.
“Anak-anak muda perlu tahu bahwa pangan lokal adalah warisan berharga dari leluhur kita. Dengan mencintai pangan lokal, kita menjaga sejarah dan menyiapkan masa depan yang lebih berdaulat,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....