Gereja Dituntut Beradaptasi dengan Teknologi di Era Digital

  • 12 Agt 2024 22:52 WIB
  •  Ende

KBRN, Mataloko: Kemajuan teknologi digital memberikan banyak kemudahan, memungkinkan pekerjaan diselesaikan dengan lebih cepat dan efisien. Namun, era ini juga membawa tantangan baru, terutama bagi sebagian orang Kristen yang terpengaruh oleh gaya hidup digital hingga menjadi kurang produktif.

Gaya hidup digital yang berkembang pesat kini juga mempengaruhi karya pewartaan Gereja. Dalam era digital ini, Gereja dituntut untuk selalu beradaptasi dengan perkembangan yang ada dan menyesuaikan bentuk pewartaan yang selaras dengan zaman.

Hal ini disampaikan oleh Dosen STIPAR Ende, RD. Deny Nuwa, dalam materinya pada kegiatan hari studi dalam rangka 100 tahun Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Mataloko, Rabu (7/8/2024) lalu. Di era society 5.0 menjadi tantangan tersendiri yang cukup mempengaruhi gaya hidup digital banyak orang, termasuk gaya hidup digital sebagian orang Kristen.

"Harus diakui banyak orang termasuk orang kristen yang seringkali menghabiskan lebih banyak waktu hanya untuk memainkan perangkat digitalnya dan menjadi pribadi yang tidak produktif," ujarnya.

Dia juga mengatakan, jika Gereja Katolik sejak awal telah memiliki pandangan positif tentang media massa dan teknologi informasi. Sikap ini tercermin dalam surat Paus Pius XI pada tahun 1936, yang merupakan dokumen resmi Gereja pertama yang membahas media.

"Sikap positif Gereja ini tertuang dalam ensiklik ‘Vigilanti cura’ Paus Pius XI, sebuah dokumen resmi Gereja yang pertama tentang media (Pius XI, 1936) dan dalam ensiklik Paus Pius XII, ‘Miranda Prorsus’ yang secara eksplisit menyatakan bahwa kemajuan teknologi adalah karunia Allah dan karena itu Gereja menyambutnya dengan sukacita namun di lain pihak, tetap dituntut sikap bijaksana (Pius XII, 1957)," kata RD. Deny.

Menurut RD.Deny, dalam pewartaannya di era Society 5.0, Gereja menghadapi berbagai tantangan, seperti akses informasi digital tanpa batas dan fenomena perilaku individualistis dan anti sosial. selain itu juga beredarnya berita hoaks dan penyesatan, serta penyalahgunaan aplikasi digital sebagai alat mencari kebahagiaan semu.

Tantangan lain adalah berkembangnya pola hidup serba instan melalui penggunaan teknologi digital juga menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu dirinya menekankan agar Gereja tetap harus mempertahankan misi Allah yang diembannya dengan mengedepankan hubungan fisik antar-manusia (human physical relationship).

Ia juga menegaskan kemunculan platform digital kini mendefinisikan ulang cara mengkomunikasikan pesan keagamaan dan praktik keagamaan di antara para penganutnya. Maka dari itu, para pemimpin religius diharapkan dapat merangkul platform digital untuk menjangkau dan menghubungkan diri dengan pengikut mereka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....