“Etu” Natalea, Atraksi Adat Simbol Persatuan
- 13 Jun 2024 08:29 WIB
- Ende
KBRN, Ende : Dalam tradisi dan adat istiadat masyarakat Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur, terdapat suatu jenis olahraga tradisional yang mirip dengan tinju konvensional. Masyarakat setempat menyebutnya etu atau tinju adat. Etu atau tinju adat merupakan sebuah atraksi budaya sebagai salah satu rangkaian acara adat untuk memeringati hari menanam hingga panen kebun. Biasanya, Etu dilakukan pada bulan-bulan tertentu sesuai kalender adat, dan bulan tersebut meriupakan masa memanen. Selain itu, Etu juga merupakan bagian integral dalam rangkaian adat Nagekeo dan Ngada yang sudah berlangsung berabad-abad.
Etu wajib dilaksanakan di kisa nata (alun-alun) rumah adat (sa'o waja) yang merupakan pusat dari aktivitas adat dan kebudayaan masyarakat setempat. Di tengah-tengah “Kisa Nata” itu terdapat tugu kayu bercabang dua yang dipancang di atas batu bersusun (peo) yang melambangkan persatuan dan persekutuan masyarakat.
Untuk masyarakat Natalea,Desa Raja Kecamatan Boawae Kabupaten Nagekeo, sehari sebelum etu digelar, seluruh masyarakat memadati kisa nata dan merayakan malam itu dengan pertunjukan seni musik dan tari (dero). Etu menjadi tontonan yang menarik karena setiap wilayah, baik perwakilan dari Nagekeo maupun kabupaten tetangga seperti kabupatenNgada sama-sama mengirimkan wakil terbaiknya untuk beradu cepat tangkas dalam duel antar lelaki itu.
Proses menuju Etu atau tinju adat harus diawali dengan rangakaian ritual adat yang dilakukan oleh para tokoh adat dari 7 suku di kampong Natalea. Ritual adat diikuti masyarakat dengan aturan-aturan yang sudah disepakati bersama. Rangkaian acara diawali dengan ritual adat Kose yang dilakukan oleh suku Nau dan Suku Wozo Bhena.
Kose artinya panggang/bakar. Semua makananan baik nasi maupun daging yang akan dinikmati adalam acara ini harus dibakar dengan menggunakan bambu atau disebu nasi/daging bamboo bakar.


Ritual adat Kose merupakan Ritual makan bersama yang dilaksanakan di tempat tertentu pada pagi hari dengan meminta restu arwah leluhur untuk kelancaran acara dan kehidupan selanjutnya yang dipimpin oleh tokoh adat.
Ritual adat Kose diakhiri dengan memerciki air kelapa muda kepada masyarakat yang mengikuti acara dan dibelahnya kelapa muda oleh tokoh adat yang meminpin acara. Belahan kelapa inilah dapat menentukan baik atau buruknya hasil perkebunan/pertanian masyarakat selama setahun.


Setelah acara kose rombongan tohoh adat dan masyarakat bersama-sama kembali ke rumah adat. Dan dilanjutkan dengan ritual berikutnya Lo Geda dengan diiringi bunyi gong gendang yang ditabuh para lelaki dengan mengenakan pakaian adat Nagekeo.


Setelah Lo Geda acara dilanjutkan oleh 5 suku lainnya yang masih dalam satu kesatuan ditandai dengan arakan rombongan yang membawa ayam, babi oleh Suku Gajah, Suku Demu membawa pakaian pelengkap untuk pria yang bertanding adalam etu seperti kain, ikat kepala yang dalam bahasa daerah setempat disebut sada, hoba dan podi ulu mengitari Peo, Sedangkan Suku Kue, Eza dan Teda Tua melanjutkan ritual Lo Geda.


Setelah rangkaian ritual adat selesai, keesokan harinya dimulai dengan Etu atau tinju adat. Atraksi tinju adat atau etu di kampong Natalea dilaksanakan selama dua hari. Hari pertama dilaksanakan “Etu Co’o” atau tinju adat bagi anak-anak dan pada hari kedua dilaksanakan “Etu Meze” bagi remaja dan orang dewasa.
Jika pada tinju konvensional boleh bertinju bebas tanpa kendali dari pihak luar, maka dalam etu para petarung bertanding di bawah kendali penuh pihak luar dan dilakukan dalam “loka etu”atau arena tinju yang sudah disipakan khusus di di halaman rumah adat.


Para petarung menggunakan sebuah benda keras dari kayu (pohon enau) yang dibuat membulat dan sejengkal panjangnya. Alat yang dijadikan senjata itu selalu tergenggam erat di tangan mereka yang disebut Li'e Woe dan mereka hanya boleh memukul menggunakan satu tangan, sementara tangan yang lainnya untuk menangkis serangan.


Di belakang para petarung selalu ada orang yang mendampingi dengan memegang kain yang terikat kuat pada badan petarung. Dua orang ini dinamakan Sike/Sipe atau pengendali laju pergerakan para petarungnya. Sike/Sipe ini sangat berperan dalam memainkan ritme pertarungan, menarik, melepaskan petarung untuk tetap maju menghajar lawannya.Kemudian ada "Seka" atau wasit yang juga berjumlah dua orang sebagai penghalau, penengah juga memancing dua petarung ini untuk segera saling menghajar. Bila para petarung belum mulai beradu jotos, Seka menghentakan kaki semacam memberitahu para petarung agar segera melepaskan serangan, namun juga sebagai penghalau atau menahan tangan petarung bila dirasa lawannya sudah terkena pukulan atau menghajar membabi buta.


Yang menarik dalam "Etu Meze" pada hari kedua, pemuda dan orang dewasa yang merupakan petarung-petarung hebat dari berbagai suku yang ada di Nagekeo dan dari kabupaten tetangga seperti Ngada turut meramaikan “Loka Etu” atau arena tinju. Calon lawan dari masing masing petarung dipilih sesuai kemauan dan kesanggupan petarung dengan seorang lelaki sebagai perantara antara kedua kubu hingga terjadi kesepakatan tiap lawan tandingnya. Puluhan pemuda silih berganti memasuki arena dengan semangat tinggi untuk mengalahkan lawan. Riuh gemuruh suara penonton bergema saat adu jotos kedua petarung dimulai. Adu kekuatan kedua petarung ini berhenti bila keduanya mengisyaratkan untuk tidak melanjutkan lagi.


Pada akhir pertandingan para petarung kembali berpelukan dan berdamai serta melambaikan tangan kepada penonton sebagai ungkapan rasa terima kasih atas dukungannya. Hal ini melambangkan sikap atau simbol perdamaian, persaudaraan, dan persatuan. Etu atau tinju adat adalah murni bagian adat untuk mempersatukan masyarakat.
Kalau dalam pertandingan ada yang terluka, berdarah atau jatuh biasanya mereka akan kembali disembuhkan melalui ritual adat khusus pada hari ketiga atau terakhir yang dinamakan " Zoka" yang dilakukan oleh para tokoh adat dari suku Gajah yang ada di kampung Natalea…
Etu bagi orang Nagekeo bukan sekedar olahraga yang hanya untuk dipentaskan semata. Lebih dari itu, etu merupakan atraksi seni budaya daerah warisan turun temurun yang dipentaskan sebagai ungkapan puji syukur dan persembahan, kepada bumi tempat berpijak yang telah memberi sumber kehidupan bagi seluruh masyarakat Nagekeo.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....