PGRI Flores Timur Salurkan Donasi Guru Terdampak Gempa Flores

  • 07 Okt 2026 11:41 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • PGRI Flores Timur menyalurkan bantuan kepada guru yang terdampak gempa bumi 15 Agustus 2026 sebagai bentuk solidaritas sesama guru.
  • Penyaluran bantuan menjangkau delapan kabupaten di Flores dan Lembata: Flores Timur, Sikka, Ende, Ngada, Nagekeo, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat.
  • Tim PGRI Flores Timur melakukan perjalanan langsung ke sejumlah sekolah untuk memastikan bantuan diterima oleh penerima yang sesuai dengan hasil pendataan.

RRI.CO.ID, Ende - Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Flores Timur menyalurkan bantuan bagi guru terdampak gempa bumi 15 Agustus 2026 di sejumlah wilayah Flores dan Lembata. Ketua PGRI Flores Timur, Maksimus Masan Kian, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas sesama guru untuk membantu rekan seprofesi yang mengalami kesulitan pascabencana.

“Penyaluran donasi menjangkau delapan kabupaten, mulai dari Flores Timur, Sikka, Ende, Ngada, Nagekeo, Manggarai Timur, Manggarai hingga Manggarai Barat. Tim PGRI Flores Timur melakukan perjalanan langsung ke sejumlah sekolah untuk memastikan bantuan diterima oleh penerima sesuai hasil pendataan”, ucap Maksimus kepada RRI saat wawancara pagi, Rabu, 7 Oktober 2026.

Maksimus mengatakan proses penggalangan hingga penyaluran bantuan diawali pendataan selama sekitar dua pekan menggunakan formulir digital. Setiap sekolah diminta mencantumkan identitas, kebutuhan prioritas, akses lokasi, serta titik koordinat agar bantuan dapat diverifikasi dan dikemas sesuai kebutuhan masing-masing.

“Bantuan yang disalurkan tidak hanya berupa sembako, tetapi juga meja dan kursi belajar, lemari arsip, tempat penampungan air, semen, seng, kompor, serta kebutuhan lainnya. Di sejumlah wilayah, PGRI juga menyalurkan buku tulis dan alat tulis untuk siswa, sementara kebutuhan guru diprioritaskan karena sebagian hunian mereka rusak akibat gempa”, ujarnya.

Dalam penyaluran, kata Maksimus, PGRI Flores Timur menghadapi tantangan medan perjalanan, terutama akses jalan menuju sejumlah lokasi terdampak. Meski demikian, tim yang bergerak dari Larantuka hingga Labuan Bajo dapat menyelesaikan penyaluran dengan aman dan langsung berkoordinasi dengan sekolah penerima.

Maksimus menyebut kebutuhan air bersih menjadi salah satu persoalan yang masih dirasakan guru dan masyarakat di sejumlah lokasi terdampak. Ia berharap pihak lain yang ingin memberikan bantuan dapat mempertimbangkan pembangunan atau penyediaan tempat penampungan air bersih berkapasitas lebih besar, karena kebutuhan air minum di beberapa titik mencapai ratusan kemasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....