Dari Luka Pascagempa, Stipar Ende Temukan Kekuatan dalam Komunitas
- 04 Okt 2026 13:00 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende- Komunitas tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi dapat menjadi kekuatan untuk memulihkan diri ketika anggotanya menghadapi penderitaan dan kehilangan. Pesan tersebut disampaikan Ketua Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa (Stipar) Ende, Dr. Fransiskus Zaverius Maria Deidhae, M.A., dalam Misa Syukur Dies Natalis Stipar Ende ke-36, Sabtu, 3 Oktober 2026 di Aula Stipar Ende.
Saat menyampaikan khotbah dengan tema “Dari Komunitas Stipar Kita Bertumbuh Menuju Generasi yang Beriman”, Fransiskus mengajak umat memaknai perayaan keluarga di tengah situasi Flores yang baru mengalami bencana gempa bumi. Menurutnya, rasa syukur tidak berarti bersukacita karena terluput dari bencana, tetapi mensyukuri pengalaman yang mengajarkan manusia untuk berbela rasa dan bersatu dalam perjuangan.
Dr. Fransiskus mengatakan pesan tersebut dapat ditemukan dalam kisah Ayub yang mengalami penderitaan berat hingga kehilangan harapan dan mempertanyakan kehadiran Allah. Namun, ketika saudara dan kenalannya datang, makan bersama, menghibur serta memberikan persembahan, Ayub menemukan kembali kekuatan dalam persekutuan, bahkan pemulihannya berkaitan dengan kesediaannya mendoakan sahabat-sahabatnya.
Ia menjelaskan, pengalaman Ayub menunjukkan bahwa komunitas seharusnya hadir ketika seseorang sedang terluka, bukan untuk menghakimi, bergosip atau membicarakan kelemahannya. Komunitas justru perlu menjadi ruang untuk merawat, mendoakan dan membantu setiap anggota membangun kembali harapan di tengah persoalan.
Dr. Fransiskus mengajak civitas Stipar melihat perjalanan lembaga tersebut sebagai pengalaman panjang yang juga dibentuk oleh kekuatan kebersamaan. Ia mengenang kondisi Stipar pada awal 2000-an ketika jumlah mahasiswa masih berkisar 60 hingga 100 orang, sementara para dosen yang terdiri dari pastor, bruder dan awam bekerja tanpa digaji dengan fasilitas ruang kelas serta asrama yang masih sederhana.
Menurutnya, perjalanan Stipar selama lebih dari dua dekade memperlihatkan bahwa sebuah komunitas dapat bertumbuh ketika orang-orang di dalamnya bersedia berjuang bersama. Pengalaman itu menjadi bagian dari ingatan iman bahwa perkembangan lembaga tidak hanya lahir dari fasilitas dan program, tetapi juga dari pengorbanan, kesetiaan dan persekutuan.
Ia menambahkan, bahwa tantangan terhadap kehidupan bersama kini semakin samar melalui teknologi dan berbagai gaya hidup yang dapat membawa manfaat sekaligus nilai yang bertentangan dengan martabat manusia dan kekristenan. Karena itu, manusia membutuhkan komunitas sebagai ruang saling menjaga atau semacam kelompok penolong agar setiap anggota tidak menghadapi berbagai pengaruh tersebut seorang diri.
Dr. Fransiskus berharap Stipar terus membentuk generasi yang memiliki kepedulian terhadap sesama dan mampu menjadikan persekutuan sebagai kekuatan dalam menghadapi berbagai krisis. dan berharap lulusan Stipar tidak hanya bertumbuh dalam pengetahuan dan kemampuan pastoral, tetapi juga memiliki mata iman untuk mengenali karya Allah melalui tangan yang menolong, suara yang meneguhkan dan kehadiran yang menguatkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....