Musibah sebagai Ujian untuk Meningkatkan Keimanan
- 05 Okt 2026 08:17 WIB
- Ende
Poin Utama
- Musibah dalam perspektif Islam tidak harus dipandang sebagai sumber kesedihan tetapi dapat menjadi momentum untuk meningkatkan keimanan dan kesabaran.
- Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Ende, Erni Abubekar Ruka, S.Sy, menjelaskan konsep ini dalam program Mimbar Agama Islam di RRI pada 2 Oktober 2026.
- Musibah merupakan bagian integral dari kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari dan dapat digunakan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
RRI.CO.ID, Ende - Musibah yang terjadi dalam kehidupan manusia tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang membawa kesedihan dan penderitaan. Dalam perspektif Islam, setiap ujian dapat menjadi momentum untuk meningkatkan keimanan, kesabaran, sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Ende, Erni Abubekar Ruka, S.Sy, saat mengisi program Mimbar Agama Islam di RRI, Jumat, 2 Oktober 2026, dengan tema “Hikmah Dibalik Musibah”. Erni menjelaskan, musibah merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari.
Bentuknya pun beragam, mulai dari kehilangan harta benda, sakit, kehilangan orang yang dicintai, kegagalan, maupun berbagai persoalan yang datang di luar harapan manusia. Menurutnya, seorang Muslim perlu menyadari bahwa tidak semua peristiwa yang dianggap buruk oleh manusia benar-benar berakhir dengan keburukan.
"Bisa jadi, di balik musibah terdapat hikmah dan kebaikan yang belum mampu dilihat pada saat peristiwa itu terjadi. Ia mengingatkan umat Islam untuk menjadikan musibah sebagai sarana melakukan introspeksi diri,' ujarnya.
Ketika menghadapi kesulitan, manusia hendaknya tidak hanya bertanya mengapa musibah itu terjadi. Namun, juga mengambil pelajaran serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.
“Musibah jangan hanya kita lihat dari sisi kesedihannya, tetapi bagaimana kita mengambil hikmah dari musibah tersebut. Karena bisa jadi Allah memberikan ujian kepada kita untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan,” ujar Erni.
Lebih lanjut, Erni menyampaikan bahwa salah satu sikap utama yang harus dimiliki seorang Muslim ketika menghadapi musibah adalah sabar. Sabar bukan berarti pasrah tanpa melakukan usaha, melainkan tetap berusaha, berdoa dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.
Selain sabar, umat Islam juga diajak untuk memperkuat tawakal. Menurutnya, manusia memiliki keterbatasan dalam mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya, sementara Allah SWT mengetahui segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan hamba-Nya.
Ia juga mengingatkan pentingnya memperbanyak doa dan istigfar ketika menghadapi kesulitan. Musibah hendaknya menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan justru membuat seseorang menjauh dari ibadah dan kehilangan harapan.
Erni mencontohkan kisah para nabi yang menghadapi berbagai ujian berat sebagai teladan bagi umat Islam. Kesulitan yang dihadapi tidak membuat mereka berhenti berharap kepada Allah SWT, tetapi justru semakin memperkuat kesabaran, doa dan keyakinan terhadap pertolongan-Nya.
“Jangan sampai musibah membuat kita berputus asa.Jadikan musibah sebagai pengingat untuk lebih dekat kepada Allah, memperbaiki diri, memperbanyak doa dan tetap yakin bahwa setiap kesulitan ada jalan keluarnya,” katanya.
Melalui program Mimbar Agama Islam, Erni mengajak umat Muslim di Kabupaten Ende untuk menghadapi setiap ujian kehidupan dengan sikap sabar, ikhlas dan tawakal. Menurutnya, manusia mungkin tidak selalu dapat memahami hikmah sebuah musibah pada saat mengalaminya, namun keyakinan kepada Allah SWT harus tetap dijaga.
" Musibah tidak hanya menjadi peristiwa yang mendatangkan kesedihan, tetapi juga dapat menjadi jalan bagi manusia untuk memperkuat iman, memperbaiki diri dan semakin dekat kepada Allah SWT," ucapnya berpesan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....