Pondok Baca Kampung Kabor Bangun Persatuan Lewat Literasi
- 02 Okt 2026 12:52 WIB
- Ende
Poin Utama
- Peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum untuk memperkuat persatuan melalui budaya membaca, berpikir kritis, dan kepedulian sosial.
- Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi kemampuan memahami realitas, menyaring informasi, dan membangun empati di tengah keberagaman.
- Ketahanan ideologi Pancasila dibangun melalui kesadaran bernalar dan pemahaman perbedaan, bukan hanya hafalan teks, untuk melindungi generasi muda dari prasangka dan narasi pemecah belah di media sosial.
RRI.CO.ID, Ende - Peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum bagi pegiat literasi untuk mendorong penguatan persatuan melalui budaya membaca, berpikir kritis, dan kepedulian sosial. Pendiri Pondok Baca Kampung Kabor Maumere, Yohanes Kia Nunang, S.I.K, mengatakan literasi tidak sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami realitas, menyaring informasi, serta membangun empati di tengah keberagaman.
Yohanes yang akrab di sapa Yanto, menilai ketahanan ideologi bangsa tidak cukup dibangun melalui hafalan teks Pancasila, melainkan melalui kesadaran bernalar dan kemampuan memahami perbedaan. Menurutnya, generasi muda perlu dibekali daya kritis agar tidak mudah terjebak prasangka, egoisme, maupun narasi yang dapat memicu perpecahan, terutama di media sosial.
“Pondok Baca Kampung Kabor yang didirikan pada 2020 berawal dari kegelisahan Yohanes terhadap keterbatasan akses anak-anak terhadap bahan bacaan bermutu. Tempat yang sebelumnya merupakan lokasi pembuangan sampah itu kemudian diubah menjadi ruang belajar dan bermain yang terbuka bagi masyarakat tanpa membedakan suku, agama, maupun ras”, ucap Yanto kepada RRI di program Komunitas Bicara, Kamis, 1 Oktober 2026.
Yanto mengatakan berbagai kegiatan dilakukan untuk meningkatkan minat baca sekaligus membangun karakter anak. Kegiatan tersebut meliputi membaca bebas, mendongeng, diskusi buku, pelatihan menulis puisi, belajar dan berdoa bersama, hingga permainan tradisional.
“Kegiatan tersebut perlahan mengalihkan perhatian anak-anak dari penggunaan gawai berlebihan, sekaligus menumbuhkan kerja sama, tanggung jawab, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama”, ujarnya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, Pondok Baca Kampung Kabor juga mendorong anak dan remaja menjadi produsen konten positif dengan mendokumentasikan budaya lokal serta menulis kisah inspiratif dari lingkungan sekitar. Yanto menyebut literasi digital penting untuk membekali generasi muda agar mampu memverifikasi informasi, mengenali berita bohong dan ujaran kebencian, serta tidak mudah terprovokasi.
Yanto menegaskan penguatan ekosistem literasi membutuhkan kolaborasi keluarga, sekolah, komunitas, pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda. Ia berharap sinergi tersebut dapat menjadikan ruang literasi sebagai wadah pembentukan generasi muda yang kritis, berkarakter, mampu menghargai keberagaman, serta menghidupkan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....