Buaya Muara Aktif di Pesisir Flores Timur, Warga Diminta Waspada

  • 22 Sep 2026 08:44 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID,Flores Timur – Perkumpulan BERGUNA mengimbau masyarakat pesisir Flores Timur bagian selatan untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan menyusul penampakan buaya muara atau Crocodylus porosus di sejumlah perairan. Sejak 27 Agustus hingga 21 September 2026, buaya dilaporkan muncul di beberapa titik, di antaranya Perairan Konga, Bama, Lamawalang, dan Ekasapta Larantuka.

Ketua Perkumpulan BERGUNA, Rofinus Monteiro, mengatakan warga yang beraktivitas di sepanjang pesisir selatan Pulau Flores, mulai dari Pantai Oa hingga Desa Kolaka, perlu memperhatikan keamanan dan keselamatan, terutama saat berada di sekitar pantai, muara, dan perairan dangkal.

“Kami mengimbau warga yang beraktivitas di sepanjang pesisir selatan Pulau Flores, dari Pantai Oa hingga Desa Kolaka untuk memperhatikan keamanan dan keselamatan,” ujar Rofinus kepada RRI, Senin, 21 September 2026.

Rofinus meminta masyarakat menghindari aktivitas di pantai, muara sungai, dan laut dangkal pada sore hari, malam hari, serta pagi hari buta. Warga juga diminta tidak berenang, memancing, atau mencari kerang dan keong di muara sungai yang keruh, kawasan bakau, maupun lokasi yang sepi seorang diri.

Perhatian khusus juga diberikan kepada anak-anak dan ternak. Orang tua diminta tidak membiarkan anak bermain di tepi pantai tanpa pengawasan.

" Untuk sementara ternak dan perahu sebaiknya tidak ditempatkan terlalu dekat dengan mulut muara," katanya mengimbau.

Rofinus mengingatkan warga untuk tidak memancing perhatian buaya dengan melempar batu, mengejar, menangkap, atau menyerangnya. Jika buaya terlihat, masyarakat diminta segera melaporkan kepada aparat desa, BPBD, BKSDA, maupun Tim BERGUNA dan tidak mengambil tindakan sendiri.

Menurut Rofinus, kemunculan buaya di sekitar permukiman, pantai, dan laut dapat dipengaruhi sejumlah kondisi lingkungan. Salah satunya adalah gangguan habitat setelah gempa Flores pada 15 Agustus 2026.

Ia mengatakan longsor, perubahan aliran sungai, serta kondisi air yang keruh di bagian hulu diduga dapat mengganggu habitat buaya di kawasan muara dan rawa, sehingga satwa tersebut bergerak mencari lokasi yang lebih aman dan memiliki sumber makanan.

Selain itu, BERGUNA menyebut periode Agustus hingga Oktober sebagai masa aktivitas reproduksi buaya muara. Pergerakan buaya jantan untuk mencari pasangan dan wilayah baru, ditambah kondisi pasang air laut, dinilai dapat meningkatkan kemungkinan buaya terlihat di kawasan pesisir.

Faktor ketersediaan makanan juga disebut dapat memengaruhi pergerakan buaya. Sebagai satwa yang dapat hidup di lingkungan air tawar maupun air asin, buaya muara dapat bergerak mengikuti sumber makanan di perairan.

Rofinus mengatakan, konflik antara manusia dan buaya dapat terjadi ketika ruang hidup keduanya semakin beririsan. Karena itu, masyarakat perlu membangun pola hidup yang lebih waspada tanpa melakukan tindakan yang dapat membahayakan manusia maupun satwa.

Ia juga mengingatkan warga untuk menjaga kebersihan sungai dan muara. Bangkai ayam, jeroan ikan, maupun sisa makanan tidak boleh dibuang sembarangan karena dapat menarik satwa mendekati permukiman.

Menurutnya, keberadaan hutan bakau juga perlu dijaga sebagai bagian dari ekosistem pesisir dan habitat alami berbagai satwa. “Buaya tidak keluar untuk mencari musuh, dia keluar karena rumahnya terguncang. Tugas kita bukan membalas dengan permusuhan, tapi dengan kehati-hatian. Kita jaga jarak, kita jaga alam, maka kita selamat, buaya juga selamat,” ujar Rofinus.

BERGUNA mendorong masyarakat dan pemerintah setempat memperkuat kewaspadaan di kawasan rawan, memasang tanda peringatan di sekitar muara, serta membangun mekanisme pelaporan apabila kembali ditemukan kemunculan buaya. Buaya muara sendiri merupakan satwa yang masuk dalam daftar satwa dilindungi di Indonesia. Panduan identifikasi satwa dilindungi Ditjen KSDAE mencantumkan Crocodylus porosus sebagai buaya muara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....