Tenun Ikat Ende, Warisan Budaya yang Terus Berinovasi

  • 19 Sep 2026 20:30 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Tenun ikat Ende bukan hanya kain tradisional tetapi representasi identitas, nilai adat, dan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun kepada masyarakat.
  • Pelestarian tenun Ende membutuhkan dua strategi sekaligus: menjaga keberadaan fisik kain dan motif tradisional, serta memperkenalkan filosofi dan cerita di balik setiap karya.
  • Generasi muda menjadi kunci penting dalam keberlanjutan tenun Ende, sehingga diperlukan inovasi dan edukasi yang menarik agar warisan budaya tetap relevan dan diminati.

RRI.CO.ID, Ende – Tenun ikat Ende tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat, tetapi juga merepresentasikan identitas, nilai adat, dan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun. Di tengah perubahan zaman, keberadaan tenun Ende membutuhkan upaya pelestarian sekaligus inovasi agar tetap dikenal dan diminati generasi muda.

Ketua Sanggar Budaya Sawonga Ende sekaligus Pengelola Museum Tenun Ikat Ende, Ali Abubekar Pae, SH, dalam wawancara bersama RRI,Sabtu,19 September 2026,mengatakan pelestarian tenun tidak cukup hanya dengan menjaga keberadaan kain dan motif tradisional. Menurutnya, nilai, filosofi, serta cerita yang terkandung dalam setiap karya tenun juga perlu diperkenalkan kepada generasi penerus.

Ali menjelaskan, tenun Ende memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Kain tenun digunakan dalam berbagai kegiatan adat serta menjadi bagian dari identitas masyarakat Ende-Lio.

Menurut Ali, Museum Tenun Ikat Ende memiliki peran penting sebagai ruang untuk mengenalkan kekayaan tenun kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Museum tidak hanya menjadi tempat menyimpan koleksi, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi untuk memahami sejarah, motif, proses pembuatan, serta makna budaya yang melekat pada tenun.

Ia menilai tantangan pelestarian tenun saat ini semakin kompleks karena perubahan gaya hidup dan perkembangan industri kreatif. Karena itu, generasi muda perlu diberikan ruang untuk mengenal dan mengembangkan tenun dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Ali menambahkan, inovasi dalam pemanfaatan tenun dapat dilakukan tanpa menghilangkan identitas budaya yang menjadi ciri khasnya. Pengembangan produk, desain, promosi melalui media digital, hingga pemanfaatan tenun dalam berbagai kebutuhan masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya memperluas apresiasi terhadap kain tradisional.

Ia berharap tenun Ende tidak hanya dipandang sebagai pakaian adat yang digunakan pada kegiatan tertentu, tetapi juga sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sosial, edukasi, dan ekonomi. Dengan demikian, pelestarian tenun dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan industri kreatif lokal.

Ali mengajak generasi muda untuk tidak melihat tradisi sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman. Menurutnya, menjaga tenun berarti menjaga identitas budaya sekaligus memberikan ruang bagi warisan leluhur untuk terus berkembang dan menjawab kebutuhan masyarakat masa kini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....