Jadi Destinasi Alternatif Pascagempa, Kunjungan Wisata ke Beo Mano Melonjak
- 19 Sep 2026 05:11 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Timur – Gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 lalu tidak serta-merta memukul sektor pariwisata di Beo Mano, Kelurahan Mandosawu Manggarai Timur. Kunjungan wisatawan justru tetap stabil bahkan cenderung meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Beo Mano, Denny, mengatakan kondisi tersebut terlihat sepanjang Agustus hingga September 2026. Bahkan, volume kunjungan pada periode tersebut mengalami peningkatan hingga hampir 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Untuk kunjungan sendiri saat gempa, bahkan saat gempa dan juga pascagempa, wisatawan yang berkunjung ke Beo.Mano itu cenderung stabil. Bahkan dibandingkan dengan volume kunjungan tahun lalu dan juga tahun sebelumnya, ada peningkatan yang lumayan drastis," ujar Denny kepada RRI, Jumat 18 September 2026.
Menurut Denny, kunjungan wisatawan naik hampir 50 persen dibanding tahun lalu. Peningkatan terjadi karena Agustus adalah puncak musim liburan.
Meski sempat terjadi gempa pertengahan Agustus, kunjungan wisatawan ke Beo Mano tetap stabil hingga tren positif itu berlanjut sampai September.
"Kami melihatnya itu Agustus kan memang peak season, jadi puncak musim ramai, masih stabil seperti tahun lalu, bahkan cenderung meningkat. Dan juga September, September itu dibandingkan dengan tahun lalu, tahun ini lebih meningkat kunjungannya," ungkapnya
Lebih lanjut, ia menilai peningkatan itu didorong oleh penutupan sementara sejumlah destinasi wisata di Flores pascagempa. Beberapa destinasi seperti kawasan pendakian Gunung Inerie, Taman Nasional Kelimutu, dan Liang Bua sempat ditutup, sehingga wisatawan mencari alternatif yang bisa dikunjungi, salah satunya Beo Mano.
"Banyak objek wisata yang di Flores ini ditutup akibat gempa. Contoh misalnya pendakian Inerie, terus Kelimutu ditutup sementara, terus Liang Bua juga ditutup sementara. Ada notice-notice untuk penutupan sementara saat gempa, sehingga alternatif pilihannya itu Beo Mano," kata Denny.
Selain jumlah kunjungan, pengalaman gempa juga memberikan kesan tersendiri bagi wisatawan yang datang ke Beo Mano. Denny menuturkan, sejumlah wisatawan asal Eropa membandingkan struktur bangunan tradisional di Wae Rebo dengan konstruksi rumah di negara asal mereka.
Para wisatawan menyoroti perbedaan karakter konstruksi, terutama pada penggunaan fondasi, besi, kayu, hingga bambu. Rumah tradisional yang memanfaatkan material lokal seperti bambu justru menjadi daya tarik utama bagi mereka.
Di tengah tetap bergeraknya aktivitas pariwisata, Pokdarwis berharap pemulihan pascagempa juga menyentuh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menggantungkan pendapatan dari sektor pariwisata.
Percepatan pembangunan dan pemulihan menjadi kebutuhan utama, disertai kemudahan akses permodalan bagi pelaku UMKM agar mereka dapat kembali mengembangkan usahanya.
"Kami berharap ada percepatan pembangunan dan pemulihan. Tak lupa permodalan, kemudahan permodalan dari pemerintah," kata Denny.
Tidak hanya unggul dengan kampung adatnya, terutama Compang yang dikelilingi deretan rumah adat, kawasan wisata Beo Mano juga menyuguhkan keindahan lanskap alam serta berbagai destinasi lain yang kaya akan panorama alam dan nilai budaya.
Keunggulan ini menjadi modal berharga untuk membangun pariwisata berbasis masyarakat yang berdampak langsung pada perekonomian warga serta UMKM setempat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....