Siswa SDI Wairotang Dilatih Tanggap Gempa sejak Dini

  • 09 Sep 2026 12:43 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Sikka – Ratusan siswa Sekolah Dasar Inpres (SDI) Wairotang, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengikuti simulasi bencana gempa bumi, Rabu 9 September 2026. Kegiatan tersebut turut diikuti Wakil Bupati Sikka Simon Subandi Supriadi bersama para guru dan siswa.

Dalam simulasi, para siswa dibekali keterampilan dasar untuk menyelamatkan diri ketika gempa terjadi. Mereka mempraktikkan langkah berlindung di bawah meja, melindungi kepala, kemudian melakukan evakuasi menuju tempat terbuka yang dinilai aman.

Simulasi tidak hanya menekankan kecepatan, tetapi juga ketepatan siswa dalam mengikuti prosedur keselamatan. Setelah gempa disimulasikan, siswa diarahkan keluar ruangan secara tertib dan berkumpul di titik aman yang telah ditentukan pihak sekolah.

Wakil Bupati Sikka Simon Subandi Supriadi mengatakan, simulasi menjadi sarana penting untuk mengajarkan anak-anak merespons bencana secara cepat dan tepat. Menurutnya, siswa perlu memahami tahapan penyelamatan diri, proses evakuasi hingga berkumpul di lokasi aman ketika gempa benar-benar terjadi.

“Para murid diajarin bagaimana cara menyelamatkan diri ketika terjadi gempa, dan ini luar biasa, mereka mempraktikkan cara tercepat untuk menyelamatkan diri dari bencana gempa,” kata Simon.

Ia menilai pembelajaran mitigasi bencana sejak usia sekolah dapat membentuk kebiasaan menghadapi situasi darurat. Pengetahuan tersebut diharapkan tidak hanya diterapkan di lingkungan sekolah, tetapi juga dibawa siswa ke rumah dan lingkungan tempat tinggal mereka.

Kegiatan ini sekaligus menjadi refleksi terhadap kesiapsiagaan dan keselamatan di lingkungan sekolah setelah gempa yang mengguncang wilayah Flores. Edukasi kebencanaan secara berkala dinilai penting untuk membangun kesadaran mitigasi sekaligus mendorong terbentuknya sekolah tangguh bencana.

Di tengah upaya memperkuat kesiapsiagaan, sejumlah sekolah di Kabupaten Sikka masih menggunakan tenda darurat sebagai ruang belajar. Kondisi tersebut dilakukan karena sejumlah bangunan sekolah mengalami keretakan hingga kerusakan berat yang berisiko membahayakan siswa dan guru jika kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung di dalam kelas.

Melalui simulasi tersebut, siswa tidak hanya memahami teori kebencanaan, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung menghadapi situasi darurat. Sekolah diharapkan terus memperkuat prosedur evakuasi dan memastikan seluruh warga sekolah mengetahui titik kumpul serta jalur penyelamatan yang aman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....