Lembata Mulai Terapkan Sistem Peringatan Dini Kekeringan Berbasis Dampak

  • 09 Sep 2026 07:05 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Lembata – Kabupaten Lembata mulai menerapkan Impact Based Forecasting atau IBF dalam sistem peringatan dini kekeringan. Pendekatan tersebut memungkinkan pemerintah mempersiapkan tindakan berdasarkan potensi dampak sebelum bencana terjadi.

Penerapan IBF dilakukan melalui Simulasi Meja Rencana Kontingensi Kekeringan Tahun 2026 di Lewoleba, Jumat 4 September 2026. Kegiatan ini menjadi awal uji coba proyek IBF yang disebut sebagai yang pertama diterapkan di Indonesia.

IBF mengubah pola penanganan bencana dari sekadar merespons kejadian menjadi tindakan antisipatif berdasarkan prediksi dampak. Informasi peringatan dini tidak hanya menunjukkan kemungkinan kejadian, tetapi juga dampak yang dapat ditimbulkan bagi masyarakat.

Perwakilan WFP Indonesia Wahyu Kuncoro mengatakan, pendekatan IBF memungkinkan pemerintah mengetahui potensi dampak sebelum bencana terjadi. Informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan intervensi lebih cepat dan melindungi kelompok masyarakat yang paling rentan.

“Kesiapsiagaan bukan hanya tentang merespons bencana, tetapi bagaimana memastikan masyarakat memiliki perlindungan sebelum dampak terjadi,” kata Wahyu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi NTT Safrudin Herman mengapresiasi Lembata yang menjadi daerah pertama dalam implementasi proyek IBF di Indonesia. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat memperkuat koordinasi pemerintah dan lembaga teknis menghadapi ancaman kekeringan.

Penerapan IBF melibatkan BNPB, BPBD, BMKG, WFP, TNI, Polri, perangkat daerah, camat, kepala desa, dan LSM. Pemerintah Kabupaten Lembata menargetkan sistem tersebut mempercepat tindakan sehingga dampak kekeringan terhadap masyarakat dapat diminimalkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....