Gempa Flores, Caritas Prioritaskan Warga Paling Rentan

  • 04 Sep 2026 02:15 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID,Ende- Kelompok paling rentan menjadi perhatian utama Caritas dalam respons kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa Flores di wilayah Ende. Anak-anak, lanjut usia, perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya dipastikan mendapat akses bantuan dan layanan secara adil tanpa ada yang tertinggal.

ER-DRR Officer Caritas Indonesia, Toufin, mengatakan prinsip tersebut tetap menjadi prioritas ketika respons mulai bergeser dari fase tanggap darurat menuju transisi pemulihan. Menurutnya, perubahan fase tidak boleh membuat masyarakat dengan kebutuhan khusus kehilangan akses terhadap bantuan dan layanan dasar.

“Memastikan seluruh kelompok terdampak, termasuk anak-anak, lansia, perempuan, penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya mendapatkan akses layanan dan bantuan secara adil,” ujar Toufin saat diwawancarai RRI Ende di Posko Keuskupan Agung Ende, Rabu 2 September 2026.

Selain memprioritaskan kelompok rentan, respons kemanusiaan juga diarahkan agar berlangsung cepat, aman, inklusif, dan bermartabat. Bantuan diupayakan diberikan secara tepat dengan tetap menghormati martabat masyarakat yang menjadi penyintas.

Toufin kemukakan keberhasilan respons kemanusiaan sangat bergantung pada koordinasi berbagai pihak. Caritas Indonesia memperkuat sinergi dengan Keuskupan, pemerintah, mitra kemanusiaan, relawan, dan masyarakat melalui semangat “One Caritas, One Response”.

Kolaborasi tersebut terlihat dalam pelayanan di Posko Komunikasi Sosial atau Komsos. Dengan sumber daya yang tersedia, relawan dari berbagai unsur ikut bergotong royong mendukung pelayanan kepada masyarakat terdampak.

“Semangat relawan itu sangat bagus sekali membantu di Komsos. Dari sumber daya yang ada, semua bergotong royong membantu, dari teman-teman OMK, media, Komsos, dan pimpinan,” katanya.

Menurut Toufin, pendekatan kolaboratif tetap dibutuhkan ketika respons memasuki fase pemulihan. Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan, tetapi juga perlu dilibatkan agar memiliki kapasitas untuk bangkit, mengurangi ketergantungan, dan membangun ketahanan menghadapi risiko bencana.

Ia berharap semangat gotong royong antara Caritas Indonesia, Keuskupan, pemerintah, relawan, mitra kemanusiaan, dan masyarakat terus terjaga selama proses pemulihan. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan pemulihan yang inklusif dan berkelanjutan serta memastikan tidak ada kelompok terdampak yang terabaikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....