Pengalaman di Pengungsian Menguatkan Makna Kemanusiaan
- 28 Agt 2026 20:11 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Pengalaman melihat langsung kondisi korban gempa di tenda pengungsian menguatkan pemahaman Suster Margaretha Ada, SSpS tentang arti kemanusiaan dan solidaritas. Warga yang tidur hanya beralaskan tikar tipis di atas tanah serta berbagi kebutuhan pokok dalam keterbatasan menjadi pengalaman yang paling membekas baginya.
Koordinator bantuan JPIC-SSpS bersama Kompas Jakarta tersebut menilai bencana menunjukkan betapa rapuhnya manusia ketika menghadapi situasi di luar kendali. Kondisi itu sekaligus mengingatkan pentingnya membangun kepedulian dan saling menopang agar masyarakat terdampak mampu bertahan.
“Di hadapan bencana, manusia ini rapuh. Tidak ada yang lebih berharga selain kita saling peduli satu sama lain,” ujar Suster Margaretha dalam wawancara bersama RRI Pro 1, Jumat, 28 Agustus 2026.
Menurutnya, kemanusiaan tidak hanya berbicara mengenai seberapa banyak bantuan yang dapat diberikan kepada sesama. Kekuatan utama justru terletak pada hati yang terbuka dan kesediaan berbagi dengan mereka yang sedang mengalami penderitaan.
Suster Margaretha mengungkapkan, kondisi sejumlah pengungsian masih memprihatinkan karena warga harus tidur di bawah tenda dengan alas yang sangat terbatas. Persediaan beras juga harus dibagi kepada banyak kepala keluarga yang berada dalam satu posko pengungsian.
Selain menghadapi keterbatasan kebutuhan dasar, para korban masih mengalami trauma akibat gempa. Sebagian warga mengaku sering terkejut ketika tidur karena teringat pengalaman gempa dan masih merasa khawatir terhadap guncangan berikutnya.
Suster Margaretha mengajak masyarakat membuka hati dan memperkuat kepedulian sesuai kemampuan masing-masing. “Kalau memang tidak bisa membantu dengan apa-apa, baiklah kita saling mendoakan untuk orang bertahan di bawah tekanan dan penderitaan,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....