Polri Gunakan Nyanyian untuk Pulihkan Trauma Anak Nagekeo

  • 26 Agt 2026 19:02 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Nagekeo – Suasana di posko pengungsian Kabupaten Nagekeo diwarnai suara nyanyian dan tawa anak-anak. Aktivitas sederhana tersebut menjadi bagian dari trauma healing yang dilakukan tim Psikologi Mabes Polri bersama Polres Nagekeo untuk membantu anak-anak menghadapi dampak psikologis pascagempa.

Bernyanyi dipilih sebagai salah satu metode pendampingan karena dapat menciptakan suasana santai sekaligus memberikan ruang bagi anak untuk berinteraksi dan mengekspresikan perasaannya.

Psikolog Mabes Polri, AKP Juan Arturo Draja, kepada RRI, Rabu, 26 Agustus 2026, mengatakan anak-anak membutuhkan pendekatan khusus karena pengalaman bencana dapat menimbulkan rasa takut dan stres.

“Untuk menghilangkan stres pada anak-anak, kami selalu memberikan edukasi untuk menghilangkan stres. Salah satunya dengan cara menyanyi,” ujar Juan.

Menurutnya, bernyanyi bukan sekadar hiburan bagi anak-anak di pengungsian. Kegiatan tersebut membantu mereka mengalihkan perhatian dari pengalaman yang menimbulkan kecemasan sekaligus membangun kembali rasa nyaman.

“Melalui nyanyian, anak-anak bisa melupakan sejenak rasa takutnya. Mereka bisa tertawa, berinteraksi, dan merasa lebih tenang,” ujarnya.

Juan menjelaskan, pendampingan terhadap anak-anak perlu dilakukan secara berkelanjutan. Selain menghadapi dampak langsung gempa, mereka juga harus beradaptasi dengan kondisi pengungsian, perubahan rutinitas, serta kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Karena itu, kegiatan trauma healing dikemas melalui permainan, bernyanyi, edukasi, dan interaksi kelompok yang disesuaikan dengan usia serta kondisi anak. Pendekatan tersebut dilakukan secara humanis agar anak merasa nyaman dan tidak menganggap proses pendampingan sebagai sesuatu yang formal atau menegangkan.

Dalam kegiatan tersebut, tim Psikologi Mabes Polri berkolaborasi dengan personel Polres Nagekeo dan pendamping sosial untuk menjangkau anak-anak di sejumlah lokasi pengungsian.

Pendampingan psikologis ini melengkapi penanganan kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana. Jika bantuan logistik diarahkan untuk memenuhi kebutuhan fisik, dukungan psikologis membantu masyarakat, khususnya kelompok rentan, menghadapi rasa takut dan beradaptasi dengan kondisi pascabencana.

Bagi anak-anak, tawa dan nyanyian di tengah pengungsian menjadi ruang untuk kembali bermain, berinteraksi, dan merasakan suasana yang lebih normal di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.

Polri memastikan pendampingan psikologis bagi masyarakat terdampak, khususnya anak-anak, terus dilakukan sebagai bagian dari proses pemulihan pascabencana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....