Tiga Tahun Menanti Kepastian Medis di tengah Pengungsian

  • 25 Agt 2026 11:10 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Sikka – Naufal Aldani baru berusia tiga tahun, tetapi sejak lahir harus menghadapi kesulitan buang air besar yang belum mendapat kepastian diagnosis medis. Anak asal Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, itu kini menjalani hari-hari di pengungsian setelah gempa bumi mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.

Kondisi Naufal kembali mendapat perhatian ketika Ketua TP PKK Provinsi NTT Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena atau Asti Laka Lena bersama Ketua TP PKK Kabupaten Sikka Ny. Fista Sambuari Kago mengunjungi Posko Pengungsian Desa Nangahale, Minggu 23 Agustus 2026. Saat itu, Naufal berada dalam pelukan ibunya, Aida Abdullah, yang menyampaikan persoalan kesehatan anaknya kepada kedua pejabat tersebut.

Keluarga mengatakan Naufal mengalami kesulitan berat saat buang air besar sehingga membutuhkan alat bantu melalui lubang anus. Keluarga juga menyebut pernah mendapat informasi mengenai kondisi yang berkaitan dengan Hirschsprung dan dugaan atresia ani, tetapi belum ada diagnosis dokter yang dapat memastikan kondisi tersebut.

Selama tiga tahun, persoalan itu menjadi bagian dari kehidupan Naufal dan keluarganya dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Keadaan semakin kompleks setelah gempa karena keluarga harus memenuhi kebutuhan dasar di pengungsian sekaligus mencari akses layanan kesehatan untuk anak dengan kebutuhan khusus.

Aida berharap Naufal dapat menjalani pemeriksaan medis secara menyeluruh untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Jika hasil pemeriksaan menyatakan operasi diperlukan, keluarga berharap tersedia akses pengobatan hingga tindakan medis tersebut dapat dilakukan.

Setelah mendengar keluhan keluarga, Asti meminta Kepala Desa Nangahale menelusuri lebih lanjut kondisi Naufal dan keluarganya. Fista juga menyatakan akan berkoordinasi dengan warga serta pihak terkait dan meminta nomor telepon keluarga agar komunikasi mengenai perkembangan kondisi Naufal dapat dilakukan.

Bagi keluarga, perhatian tersebut menjadi pintu awal untuk kembali mendapatkan akses penanganan medis yang selama ini belum memberikan kepastian. Namun, diagnosis tetap harus ditetapkan melalui pemeriksaan tenaga kesehatan agar jenis gangguan dan kebutuhan pengobatan Naufal dapat ditentukan secara tepat.

Kasus Naufal menunjukkan bahwa kebutuhan kesehatan di lokasi pengungsian tidak hanya berkaitan dengan warga yang mengalami luka akibat gempa. Sebagian pengungsi telah membawa persoalan kesehatan sejak sebelum bencana sehingga membutuhkan layanan medis yang tetap berjalan selama masa tanggap darurat.

Di tengah kebutuhan pangan, air bersih dan tempat tinggal sementara, keluarga Naufal juga harus memikirkan perawatan anak yang membutuhkan penanganan khusus. Karena itu, pemulihan korban bencana perlu memperhitungkan kebutuhan kesehatan individual, termasuk warga yang penyakit atau gangguan kesehatannya tidak terlihat secara langsung.

Bagi Naufal dan keluarganya, harapan kini sederhana, yakni memperoleh pemeriksaan, diagnosis yang pasti, serta pengobatan sesuai kebutuhan medis. Tiga tahun telah berlalu, dan keluarga berharap perhatian yang muncul di tengah pengungsian tidak berhenti pada kunjungan, tetapi berlanjut menjadi tindakan medis yang nyata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....