Takut Gempa Susulan, Penyintas Aeramo Belum Berani Pulang
- 24 Agt 2026 20:13 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Ketakutan terhadap gempa susulan membuat sejumlah penyintas yang masih mengungsi di Posko Utama Rumah Kerahiman Ilahi Aeramo, Kabupaten Nagekeo, belum berani kembali ke rumah masing-masing. Kekhawatiran tersebut terungkap saat mahasiswa Program Studi Konseling Pastoral melakukan pendampingan kepada para penyintas di lokasi pengungsian.
Hal tersebut di sampaikan oleh Kristina Manggung, mahasiswa Program Studi Konseling Pastoral Semester V yang terlibat dalam pendampingan, mengatakan kegiatan tersebut dilakukan bersama sejumlah mahasiswa dan Sister Jenny NSC. Ia menyampaikan hal itu saat diwawancarai RRI Ende di Posko Utama Rumah Kerahiman Ilahi Aeramo, Minggu 23 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, pendampingan menggunakan pendekatan konseling untuk memberikan ruang kepada penyintas mengungkapkan pengalaman dan perasaan setelah gempa. Para penyintas merespons pendampingan dengan antusias dan secara spontan menceritakan pengalaman mereka sejak gempa terjadi hingga harus meninggalkan rumah.
“Mereka langsung menceritakan kejadian waktu gempa sampai mereka mengungsi di sini. Mereka juga menceritakan ketakutan-ketakutan terhadap gempa susulan dan ketakutan untuk kembali ke rumah masing-masing,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, rasa takut tersebut masih dirasakan penyintas karena pengalaman gempa membuat mereka khawatir jika harus kembali ke rumah. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik, tetapi juga membutuhkan ruang bagi penyintas untuk mengungkapkan pengalaman dan kecemasan yang mereka alami.
Di sisi lain, Kristina melihat pengalaman berada di pengungsian membawa dampak positif terhadap hubungan sosial masyarakat. Menurutnya, bencana justru memperkuat solidaritas warga, termasuk masyarakat dari Nangadhero dan Marapokot yang sama-sama berada dalam situasi pengungsian.
“Dari bencana gempa bumi sampai mereka di posko, solidaritas antara mereka, antara satu desa itu, Nangadhero dan juga Marapokot, semakin tinggi,” katanya.
Ia menambahkan, selain solidaritas, kehidupan di pengungsian juga memperlihatkan kuatnya toleransi antarumat beragama. Kristina mengatakan terdapat dua posko yang dihuni warga Muslim dan Katolik, namun perbedaan agama tidak menghalangi masyarakat untuk membangun kebersamaan dan saling mendukung selama menghadapi dampak gempa.
Kristina berharap pendampingan konseling dapat membantu para penyintas mengurangi rasa takut dan kecemasan yang masih dirasakan setelah gempa. Ia juga berharap solidaritas dan toleransi yang telah tumbuh selama berada di pengungsian tetap terjaga, sehingga para penyintas dapat saling menguatkan hingga kondisi kembali aman dan mereka berani kembali ke rumah masing-masing.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....