STIPAR Ende Fokus Pulihkan Ketakutan Anak Penyintas Gempa Aearamo
- 23 Agt 2026 21:42 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende- STIPAR Ende mengerahkan tujuh tim untuk memberikan pendampingan psikososial dan pastoral kepada penyintas gempa di Rumah Kerahiman Aearamo, Kabupaten Nagekeo, Minggu 23 Agustus 2026. Anak-anak menjadi perhatian utama karena pendampingan diarahkan untuk membantu mereka mengurangi rasa takut sekaligus membangun kembali rasa aman setelah gempa.
Penanggung jawab kegiatan, Dr. Norbertus Labu, S.Fil., M.Si., mengatakan kehadiran tim di Rumah Kerahiman Aearamo merupakan bentuk dukungan langsung kepada penyintas yang masih berada di posko pengungsian. Menurutnya pendekatan kepada anak-anak akan dilakukan melalui kegiatan yang menyenangkan sehingga mereka dapat mengikuti proses pendampingan tanpa merasa terbebani.
"Hari ini kita akan kembali untuk bertemu, untuk membantu memberikan dukungan psikososial dan pastoral bagi penyintas gempa dan teristimewa untuk anak-anak," ujar Dr. Norbertus kepada RRI Ende di sela kegiatan pendampingan.
Dr. Norbertus menjelaskan, kegiatan gerak dan lagu menjadi salah satu media untuk mengajak anak-anak kembali aktif setelah mengalami situasi yang menegangkan akibat gempa. Selain itu, relaksasi dan afirmasi positif diberikan agar anak-anak memperoleh pengalaman yang dapat membantu mereka menghadapi rasa takut.
Ia mengungkapkan, pendampingan juga diberikan kepada orang dewasa yang berada di lokasi pengungsian sesuai kebutuhan mereka. Untuk kelompok ini, tim lebih mengutamakan konseling berupa kehadiran dan kesediaan mendengarkan cerita maupun pengalaman penyintas.
Menurutnya, Rumah Kerahiman Aearamo dipilih sebagai salah satu lokasi pendampingan karena menjadi posko utama bagi pengungsi terdampak gempa. Tim akan melihat secara langsung kondisi penyintas dan kebutuhan pendampingan yang muncul selama berada di lokasi.
Ia menambahka, pendampingan psikososial dan pastoral tidak hanya berbicara mengenai pemulihan dari rasa takut, tetapi juga membangun kembali hubungan dan semangat penyintas setelah bencana. Kehadiran pendamping diharapkan membuat masyarakat merasa memiliki ruang untuk berbagi dan tidak menghadapi pengalaman sulit seorang diri.
Dr. Norbertus berharap anak-anak penyintas gempa dapat kembali menikmati aktivitas mereka tanpa terus dibayangi ketakutan. dan berharap pendampingan tersebut dapat menumbuhkan rasa aman dan membantu mereka perlahan melihat kembali kehidupan dengan lebih optimistis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....