Polda NTT Pulihkan Trauma 52 Siswa Korban Gempa Bumi di Kabupaten Ende

  • 22 Agt 2026 18:09 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende - Polda NTT bersama Polres Ende menggelar trauma healing bagi 52 siswa terdampak gempa bumi di Kabupaten Ende, Sabtu 22 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung di Posko SMPK Maria Goreti, Jalan Wirajaya, Onekore, Ende Tengah, mulai pukul 09.30 Wita hingga siang.

Pendampingan psikologis tersebut diarahkan untuk membantu anak mengelola kecemasan, ketakutan, dan kepanikan setelah mengalami bencana gempa bumi itu. Tim menggunakan teknik Butterfly Hug dan Ultimate Emotional Freedom Technique atau USEFT dalam sesi pemulihan emosional siswa tersebut.

Kabag Psikologi RO SDM Polda NTT Kompol Dwi Chrismawan memimpin tim, didampingi Iptu Ellan Wahyudi dari Polda Jatim. Tim gabungan melibatkan dua personel Psikologi Polda NTT, empat personel Polda Jatim, serta dua konselor Polres Ende setempat.

Pendampingan diberikan setelah gempa memicu ketakutan pada anak-anak, terutama mereka yang masih berada dalam situasi pengungsian pascabencana. Psikolog mengarahkan peserta mengenali respons tubuh dan emosi, kemudian menyalurkannya melalui latihan sederhana yang mudah diikuti di lokasi.

Butterfly Hug digunakan untuk membantu siswa menenangkan diri saat kecemasan muncul selama situasi bencana dan tekanan emosional meningkat. Sementara USEFT dipraktikkan sebagai bagian dari pendampingan agar peserta dapat mengurangi ketegangan emosional secara bertahap selama kegiatan berlangsung.

Selain terapi, anak-anak mengikuti permainan edukatif, bernyanyi bersama, serta konseling ringan untuk mencairkan suasana di posko pengungsian itu. Aktivitas tersebut membuat peserta lebih leluasa berinteraksi dengan pendamping sambil mengenali kembali rasa aman setelah gempa bumi melanda.

Kompol Dwi Chrismawan mengatakan pendampingan psikososial akan dilanjutkan hingga kondisi masyarakat Ende kembali siap beraktivitas normal secara bertahap. Menurutnya, dukungan psikologis diperlukan agar pengalaman bencana tidak terus membebani emosi anak dalam menjalani aktivitas sehari-hari di sekolah.

Karolina Putri Lero, siswi asrama Maria Goreti asal Detusoko, mengaku terapi SEFT membantu mengurangi rasa cemas dan takut.

Ia menyebut pendampingan membuat anak-anak lebih tenang menghadapi kondisi pascabencana yang sebelumnya memunculkan kekhawatiran dan rasa takut mendalam.

Tim berharap proses pemulihan membantu siswa kembali belajar, berinteraksi, dan menjalani rutinitas tanpa dibayangi ketakutan berlebihan setelah gempa. Pendekatan interaktif dipilih agar anak-anak dapat mengekspresikan pengalaman mereka tanpa merasa sedang menjalani sesi yang menegangkan secara formal.

Kegiatan melibatkan tim Psikologi Polda NTT, Psikologi Polda Jatim, konselor Polres Ende, serta personel Polwan dalam pendampingan tersebut. Seluruh rangkaian berlangsung aman dan tertib, dengan suasana posko tetap kondusif hingga kegiatan berakhir pukul 11.30 Wita siang.

Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan pascabencana yang tidak hanya menyasar kebutuhan fisik, tetapi juga emosional anak-anak. Setelah sesi berakhir, para siswa terlihat antusias dan kembali beraktivitas dengan suasana lebih ringan bersama pendamping di posko.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....