Bantuan Logistik Tak Cukup, Penyintas Gempa Aegana Butuh Pendampingan

  • 22 Agt 2026 14:07 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende- Penyintas gempa di Desa Aegana, Tanali, membutuhkan pendampingan psikologis selain bantuan logistik untuk menghadapi rasa takut dan kecemasan pascabencana. Relawan Konseling Pastoral STIPAR Atma Reksa Ende memberikan pendampingan psikososial dan pastoral kepada masyarakat serta anak-anak, Jumat 21 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Ketua Divisi Konseling Keuskupan Agung Ende, Dr. Norbertus Labu S.Fil., M.Si., bersama Suster Jenny, NSC, dan delapan mahasiswa STIPAR Ende. Pendampingan dilakukan untuk membantu penyintas menghadapi dampak psikologis sekaligus memperoleh dukungan sesuai kondisi yang mereka alami.

Pendampingan dibagi dalam dua kelompok dengan sasaran berbeda. Dr. Norbertus, Suster Jenny, dan mahasiswa Konseling Pastoral memberikan konseling kepada orang tua serta masyarakat terdampak, sedangkan mahasiswa Pendidikan Keagamaan Katolik mendampingi anak-anak melalui kegiatan yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.

Mahasiswa Program Studi Konseling Pastoral, Eting mengatakan pemulihan masyarakat perlu memperhatikan kondisi psikologis selain pemenuhan kebutuhan dasar. Menurutnya, masyarakat Aegana masih membutuhkan sandang, pangan, dan papan, tetapi rasa takut dan trauma juga perlu mendapatkan perhatian.

"Melihat keadaan di Desa Aegana, masyarakat yang terdampak bencana gempa memang membutuhkan bantuan logistik berupa sandang, pangan, dan papan," ujar Eting. Ia menambahkan, dukungan psikologis dibutuhkan agar masyarakat dapat perlahan-lahan pulih dari rasa takut dan trauma pascabencana.

Sementara itu, mahasiswa Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik, Aylin mengatakan anak-anak membutuhkan perhatian khusus karena mengalami langsung situasi bencana. Menurutnya, bantuan material perlu berjalan bersama pendampingan mental dan psikologis agar anak-anak dapat melewati masa pemulihan dengan lebih baik.

"Para korban bencana tidak hanya membutuhkan bantuan material dan logistik, tetapi juga pendampingan untuk memulihkan kondisi mental dan psikologis mereka, terutama anak-anak," ujar Aylin. Ia menilai rasa takut dan trauma yang tidak ditangani dengan baik dapat memengaruhi kehidupan anak pada masa mendatang.

Pendampingan juga memberikan perhatian khusus kepada beberapa anak yang menunjukkan rasa takut cukup tinggi. Dr. Norbertus Labu memberikan pendampingan secara langsung untuk membantu anak-anak merasa lebih tenang dan mendapatkan dukungan sesuai kebutuhan mereka.

Eting menilai pendampingan psikososial dan pastoral menjadi bagian penting dalam melengkapi bantuan yang diterima masyarakat. Aylin juga menekankan pentingnya perhatian terhadap kondisi psikologis anak agar proses pemulihan tidak hanya berfokus pada kebutuhan fisik.

Keduanya berharap pendampingan psikososial dan pastoral dapat membantu masyarakat secara perlahan mengurangi rasa takut, kecemasan, dan tekanan psikologis yang mereka alami. Pendampingan tersebut diharapkan mampu membantu penyintas kembali merasa aman, memiliki kekuatan untuk bangkit, serta membangun harapan dalam menjalani kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....