Penyuluh Agama Katolik Kemenag Ngada Beri Trauma Healing Anak Korban Gempa
- 21 Agt 2026 22:40 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ngada — Tim Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ngada memberikan pendampingan psikososial (trauma healing) kepada anak-anak dan warga terdampak gempa bumi di Gou, Kamis, 20 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi respons cepat Kemenag Ngada menyusul gempa Magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores dan sempat menimbulkan ketakutan serta kecemasan di tengah masyarakat, khususnya anak-anak.
Pendampingan dilakukan dengan suasana hangat dan penuh keakraban di tengah permukiman warga. Para penyuluh mengajak anak-anak bernyanyi bersama, mengikuti berbagai permainan interaktif, hingga membagikan makanan ringan. Pendekatan tersebut dilakukan secara humanis untuk membantu anak-anak mengalihkan perhatian dari rasa takut akibat gempa dan kemungkinan gempa susulan, sekaligus menghadirkan kembali suasana ceria di tengah kondisi pascabencana.
Kegiatan ini memberikan dampak positif bagi warga, terutama dalam mengurangi kecemasan dan ketakutan yang masih dirasakan setelah gempa. Anak-anak perlahan kembali menunjukkan keceriaan dan rasa aman, sementara masyarakat didorong untuk membangun kembali optimisme dalam menghadapi situasi pascabencana. Kehadiran para penyuluh juga menjadi bentuk pelayanan Kemenag yang tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi turut memberikan penguatan emosional bagi warga terdampak.
Ketua Tim Penyuluh Agama Katolik Kemenag Ngada, Wili Longa, mengatakan kehadiran pihaknya di tengah masyarakat diharapkan mampu memberikan penguatan secara spiritual sekaligus emosional. “Kami ingin memastikan bahwa anak-anak di Gou kembali menemukan rasa aman dan kegembiraannya. Pendampingan psikososial ini merupakan wujud kepedulian nyata Kemenag Ngada untuk membantu memulihkan mental warga, khususnya anak-anak pascadampak gempa 7,7 Magnitudo,” ujarnya.
Kemenag Ngada memastikan pendampingan tidak berhenti pada kegiatan tersebut. Para penyuluh agama akan terus memantau kondisi spiritual dan psikologis warga melalui pendampingan secara berkala di lapangan. Langkah ini diharapkan dapat membantu masyarakat, terutama anak-anak, melewati masa pemulihan dengan lebih tenang, kembali merasa aman, serta membangun semangat untuk bangkit setelah bencana gempa bumi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....