Viktor dan Julie Laiskodat Bantu Kaum Disabilitas Terdampak Gempa di Manggarai
- 21 Agt 2026 04:16 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai – Keluarga besar NasDem Peduli menyalurkan bantuan kepada kelompok penyandang disabilitas terdampak gempa bumi yang mengungsi di Jalan Gewak 1 Kumba, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Kamis 20 Agustus 2026.
Bantuan diserahkan Anggota DPR RI Fraksi NasDem dari Daerah Pemilihan NTT I, Julie Sutrisno Laiskodat bersama suaminya, Viktor Laiskodat. Bantuan terdiri atas 200 kilogram beras, 10 lembar selimut, 10 dus mi instan, 10 liter minyak goreng, dan satu dus minyak kayu putih.
Sekitar 20 penyandang disabilitas kini mengungsi di gudang mebel setelah tempat tinggal mereka terdampak gempa. Jumlah tersebut bertambah dari sekitar 10 orang atau lima kepala keluarga pada awal pengungsian karena sejumlah penyandang disabilitas yang tinggal di kos dan rumah kontrakan mengalami kerusakan tempat tinggal serta kesulitan mendapatkan makanan.
Informasi mengenai kondisi para pengungsi diterima Media Center NasDem melalui video yang dikirim dari Ruteng ke Bandung. Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada NasDem Peduli untuk ditindaklanjuti dengan penyaluran bantuan ke lokasi pengungsian.
Pada hari-hari pertama pascagempa, para pengungsi sempat mengalami kekurangan makanan dan hanya mendapatkan bantuan beras dari Dinas Sosial. Kondisi tersebut mendorong sejumlah pihak memberikan dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasar para penyandang disabilitas selama berada di pengungsian.
Pemilik gudang mebel, Andri, mengatakan kebutuhan makanan para pengungsi kini mulai terpenuhi berkat bantuan dari sejumlah pihak. Namun, mereka masih membutuhkan selimut serta kasur atau alas tidur untuk menghadapi suhu dingin di Ruteng.
“Untuk sementara, pada hari pertama setelah gempa itu kesusahan makanan untuk teman-teman disabilitas. Tetapi sudah beberapa bantuan yang masuk untuk mem-back up ini semua. Puji Tuhan sampai hari ini tercukupilah, terpenuhilah,” ujar Andri.
Ia menyebut kebutuhan lain yang masih mendesak adalah selimut dan alas tidur.
“Kami juga kekurangan beberapa bahan seperti selimut, kasur yang untuk tidur. Cuma itu saja,” katanya.
Koordinator Kelompok Disabilitas Keluarga Besar Posko Disabilitas, Diana, mengatakan bantuan juga telah diterima dari Yayasan Ahimsa Indonesia, Dinas Sosial Kabupaten Manggarai, Yayasan Karya Murni, serta pihak kelurahan setempat.
Diana menyebut Yayasan Ahimsa Indonesia memberikan 50 kilogram beras dan dua papan telur, sedangkan Dinas Sosial memberikan sejumlah bahan pangan seperti sarden dan biskuit. Yayasan Karya Murni juga membantu memenuhi kebutuhan beras melalui koordinasi dengan pengelola posko.
Menurut Diana, bantuan tersebut sangat membantu, namun kebutuhan pengungsi masih harus dipenuhi secara berkelanjutan. Sebagian penyandang disabilitas dewasa selama ini bekerja sebagai tukang pijat untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga mereka juga membutuhkan pelatihan keterampilan agar dapat kembali memperoleh penghasilan.
Sementara itu, Viktor Laiskodat mengatakan bantuan bagi warga terdampak gempa telah disalurkan sejak bencana terjadi, meski kunjungan langsung ke lokasi pengungsian baru dilakukan.
“Ya, memang secara fisik kami baru, tapi sejak mulai terjadi bencana, bantuan sudah kami salurkan. Kita terus mendorong dari berbagai kabupaten yang mengalami bencana,” ujar Viktor.
Viktor berharap penanganan bencana dilakukan melalui sinkronisasi antara pemerintah dan berbagai pihak, terutama untuk mempercepat pemulihan infrastruktur, jaringan listrik, serta rumah warga yang terdampak.
“Kita tentunya berharap agar pemerintah, yang saya lihat pemerintah pusat hari ini dibandingkan saya waktu jadi gubernur, hari ini cukup cepat gerakannya. Perlu dilakukan sinkronisasi sehingga daerah-daerah ataupun tempat-tempat yang tidak tercapai karena infrastrukturnya rusak dan lain-lain bisa diperbaiki cepat, listriknya bisa kembali pulih, dan masyarakat bisa kembali ke rumahnya masing-masing untuk rumahnya diperbaiki dengan baik,” katanya.
Menurut Viktor, kunjungannya bersama Julie juga ditujukan untuk menjangkau kelompok masyarakat yang belum tersentuh bantuan di tengah luasnya dampak gempa.
“Tapi juga sekalian melihat yang tersisih, yang tidak sempat diselesaikan. Pasti saking banyaknya, ada yang kecil-kecil yang tidak sempat diselesaikan, kita ikut untuk berperan di situ,” ujarnya.
Ia menegaskan bantuan tidak hanya difokuskan di Kabupaten Manggarai, tetapi juga diarahkan ke lokasi lain yang belum terlayani.
“Prinsipnya begini, kami jalan ini untuk melihat yang tidak sempat dilayani. Tidak sempat dilayani, ya kami masuk ke sana. Banyak beberapa tempat yang sudah, ya sudah. Kita masuk yang tidak sempat terlayani saja,” kata Viktor.
Terkait rencana membantu pendidikan Astin, penyandang tunanetra berusia 19 tahun yang ditemuinya di lokasi pengungsian, Viktor menyebut dukungan terhadap pendidikan bukan hal baru baginya.
“Kalau kuliah, sekolah kan sudah menjadi pekerjaan sehari-hari. Jadi kita, ini bukan hal yang baru buat kami. Sudah ribuan kami sekolahin orang, jadi tidak ada masalah,” ujarnya.
Julie Sutrisno mengatakan penyandang disabilitas, khususnya tunanetra, membutuhkan perhatian khusus dalam penanganan pascagempa. Menurutnya, keterbatasan yang dimiliki membuat kelompok tersebut lebih rentan ketika terjadi bencana.
“Yang memang kebutuhan khusus ya, tidak bisa melihat. Sehingga waktu gempa, kami tahu bahwa disabilitas dan tunanetra harus kita bantu. Karena pasti otomatis gempa itu kan kocar-kacir. Puji Tuhan mereka bisa ditampung di tempat sini,” ujar Julie.
Julie mengapresiasi Andri dan sejumlah pihak yang telah menyediakan tempat bagi para penyandang disabilitas. Dalam kunjungan tersebut, ia juga bertemu Astin yang bercita-cita melanjutkan pendidikan di Solo dengan mengambil jurusan Pendidikan Luar Biasa.
“Walaupun keadaan seperti ini, tapi semangat sekali. Setelah menceritakan, saya bilang cita-citanya apa, kepengin kuliah. Karena keluarga yang tidak mampu, kepengin kuliah. Saya tanya mau kuliah di mana, di Solo katanya,” katanya.
Julie menyatakan akan membantu Astin melanjutkan pendidikan di Solo pada tahun depan. Ia juga memastikan bantuan bagi para penyandang disabilitas akan diberikan secara berkala.
“Setelah ini kami hari ini beri bantuan kebutuhan, dan nanti akan berkala terus. Karena biasanya orang datang bantuan sekali, satu kali sudah. Tapi padahal kan ini harus berkelanjutan,” ujarnya.
Selain bantuan kebutuhan dasar, Julie mendorong adanya pelatihan keterampilan bagi penyandang disabilitas dewasa agar mereka dapat memperoleh penghasilan secara mandiri.
“Yang kebutuhan khusus ini, mereka mau supaya ada pelatihan, cara massage segala macam untuk bisa mencari nafkah. Khusus untuk Astin, karena tahun ini sudah lewat, tahun depan kami akan kuliahkan, dan di Solo sudah pasti,” katanya.
Julie juga mengajak semua pihak memberikan perhatian lebih kepada penyandang disabilitas di seluruh wilayah Flores yang terdampak gempa.
“Saya berharap bahwa bukan hanya sekadar orang yang normal biasa dibantu, tetapi mereka ini harus diperhatikan lebih khusus lagi. Bukan hanya sekadar bantuan, tetapi mesti memikirkan bagaimana masa depan anak-anak ini ke depan,” ujar Julie.
Ia menegaskan penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk memperoleh perlindungan, pendidikan, dan kesempatan hidup yang layak.
“Karena mereka tidak minta untuk keadaan yang begini, tapi mereka mempunyai hak yang sama,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....