Tim Psikologi Polda NTT-Jatim Pulihkan Trauma Pengungsi Maukaro

  • 21 Agt 2026 09:04 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende - Senyum anak-anak mulai muncul di tenda pengungsian Dusun Nioniba, Maukaro, saat tim psikologi memberikan pendampingan pascagempa Flores tersebut. Kegiatan berlangsung Kamis 20 Agustus 2026 mulai pukul 11.30 Wita, menyasar warga terdampak dengan perhatian khusus kepada anak-anak dan kelompok rentan.

Kabag Psikologi Polda NTT Kompol Dwi Chrismawan memimpin kegiatan bersama Paur Subbagpsipers Polda Jatim Iptu Ellan Wahyudi langsung. Tim gabungan melibatkan empat personel psikologi Polda Jatim dan dua konselor Polres Ende selama pendampingan berlangsung di lokasi pengungsian setempat.

Pendampingan menggunakan metode Butterfly Hug dan Spiritual Emotional Freedom Technique untuk membantu peserta mengelola kecemasan setelah gempa tersebut. Anak-anak diajak mengikuti permainan interaktif sehingga suasana camp berubah lebih cair, sekaligus membuka ruang bagi mereka mengekspresikan perasaan.

Pendekatan tersebut diarahkan untuk membangun kembali rasa aman, mengurangi kepanikan, serta membantu warga mengenali respons emosional setelah bencana. Proses pemulihan dilakukan melalui interaksi langsung yang ringan agar peserta merasa didengar tanpa tekanan selama kegiatan berlangsung tersebut.

Kapolres Ende, AKBP Yudhi Franata mengatakan trauma healing merupakan bagian dari penanganan bencana yang mencakup kebutuhan psikologis masyarakat. Menurutnya, pendampingan terutama diperlukan anak-anak dan kelompok rentan agar rasa takut akibat kepanikan gempa dapat berangsur mereda perlahan.

"Kegiatan itu merupakan perintah Kapolda NTT untuk memastikan korban bencana memperoleh perhatian selain bantuan logistik semata. Langkah ini diharapkan membuat warga kembali percaya diri menghadapi kondisi pascabencana sambil menata aktivitas sehari-hari secara bertahap normal," katanya.

Kegiatan berakhir pukul 12.40 Wita setelah seluruh rangkaian pendampingan dan permainan interaktif selesai dilaksanakan bersama para pengungsi setempat. Suasana pengungsian tetap aman dan kondusif, sementara warga mengikuti kegiatan hingga seluruh rangkaian selesai dengan antusias dan semangat.

Kehadiran konselor di tengah pengungsi memperluas penanganan bencana, dari pemenuhan kebutuhan dasar menuju pemulihan kondisi psikologis warga terdampak. Pendampingan semacam ini menjadi ruang bagi anak-anak dan warga rentan untuk kembali merasa aman setelah mengalami guncangan gempa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....