Polri Maksimalkan Operasi Kemanusiaan di Kabupaten Manggarai, 45 Posko Siap

  • 21 Agt 2026 09:05 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai - Polri memaksimalkan operasi kemanusiaan bagi warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur sejak gempa terjadi. Langkah itu ditandai dengan kunjungan langsung Astamaops Kapolri Komjen Pol Muhammad Fadil Imran ke wilayah terdampak pada Senin 17 Agustus 2026.

Fadil bersama Wakapolda NTT Brigjen Pol Faizal dan Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah mendatangi Posko Pengungsi Barang Kolo. Posko tersebut berada di Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok, yang menjadi salah satu lokasi pengungsian masyarakat terdampak.

Berdasarkan laporan Kapolres Manggarai hingga Senin malam, tercatat 163 korban akibat gempa yang melanda wilayah tersebut. Rinciannya terdiri atas 27 orang meninggal dunia, 32 orang mengalami luka berat, dan 104 lainnya mengalami luka ringan.

Data sementara juga mencatat 45 posko pengungsian tersebar pada delapan kecamatan dengan jumlah mencapai 13.881 pengungsi. Kapolres menyebut data tersebut masih dinamis sehingga pembaruan terus dilakukan mengikuti kondisi masyarakat di lapangan.

Sekitar pukul 12.40 WITA, Fadil tiba di Posko Pengungsi Barang Kolo bersama rombongan pejabat kepolisian setempat. Kehadirannya langsung diarahkan untuk mengecek kondisi pengungsi sekaligus memastikan kebutuhan mendesak masyarakat terpenuhi dengan cepat.

Dalam kunjungan tersebut, Polri membagikan 2.500 paket bantuan sosial berupa sembako kepada warga terdampak gempa setempat. Polri juga menyalurkan tenda darurat serta menyerahkan dua unit Starling untuk mendukung pelayanan masyarakat selama masa pengungsian.

Setiap paket bantuan berisi beras lima kilogram, gula satu kilogram, mi instan, teh celup, kecap, biskuit, dan minyak goreng. Bantuan itu melengkapi distribusi tenda, terpal, genset, makanan, minuman, serta layanan kesehatan yang sebelumnya telah disalurkan.

Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah mengatakan personel kepolisian berupaya memastikan masyarakat terdampak tidak menghadapi bencana seorang diri. Menurutnya, kebutuhan warga terus didata kemudian dikoordinasikan agar bantuan dapat segera diarahkan menuju lokasi yang membutuhkan.

“Kami hadir di posko, membantu evakuasi, menyalurkan sembako, menyiapkan tenda darurat, memberikan pelayanan kesehatan, sekaligus menjaga keamanan,” ujar Levi. Ia menambahkan, setiap kebutuhan masyarakat yang ditemukan di lapangan akan segera dicatat dan ditindaklanjuti bersama.

Penanganan gempa Manggarai dilakukan melalui koordinasi lintas instansi dengan melibatkan TNI, Basarnas, BPBD, pemerintah daerah, dan tenaga kesehatan. Relawan serta masyarakat turut mendukung distribusi bantuan dan berbagai kebutuhan pengungsi selama proses penanganan bencana berlangsung.

TNI mendukung proses evakuasi, pengamanan, mobilisasi personel, serta distribusi logistik menuju sejumlah lokasi pengungsian terdampak gempa. Basarnas berfokus pada pencarian, pertolongan, dan evakuasi korban dari wilayah yang membutuhkan penanganan segera.

BPBD bersama pemerintah daerah menangani pendataan, kebutuhan pengungsi, pengelolaan posko, serta koordinasi penanganan kebencanaan secara keseluruhan. Sementara tenaga kesehatan memberikan pelayanan medis dan memantau kondisi kelompok rentan selama berada di lokasi pengungsian.

Polri menjalankan fungsi evakuasi, pelayanan posko, distribusi bantuan, pengamanan, patroli, serta koordinasi antarlembaga selama operasi berlangsung. Kolaborasi tersebut diperlukan karena ribuan pengungsi tersebar pada puluhan titik dengan kebutuhan yang berbeda-beda.

Dari 45 posko pengungsian, Kecamatan Reok menampung 4.488 pengungsi melalui tujuh posko yang tersedia. Kecamatan Wae Rii menjadi wilayah dengan jumlah posko terbanyak, yakni 17 titik yang menampung 4.476 pengungsi.

Sejumlah posko mencatat jumlah pengungsi cukup besar, termasuk Robek dengan 1.500 jiwa dan Barangkolong sebanyak 1.330 jiwa. Posko Golo Mendo menampung 1.058 jiwa, sedangkan Tengku Romot 602 jiwa dan Golo Sita 583 jiwa.

Delapan kecamatan yang menjadi lokasi pengungsian meliputi Langke Rembong, Reok, Reok Barat, Cibal, Cibal Barat, Lelak, Wae Rii, dan Satar Mese. Sebaran tersebut membuat koordinasi distribusi bantuan menjadi tantangan karena kebutuhan masyarakat berbeda pada setiap lokasi pengungsian.

Kapolres Manggarai menyebut luas wilayah terdampak dan banyaknya titik pengungsian menjadi tantangan utama operasi kemanusiaan tersebut. Perubahan data korban dan kebutuhan logistik juga menuntut petugas melakukan pemutakhiran informasi secara cepat setiap waktu.

Personel Polri juga melaksanakan patroli di sekitar pengungsian untuk menjaga keamanan sekaligus mencegah potensi gangguan ketertiban masyarakat. Langkah tersebut dilakukan karena warga membutuhkan bantuan kemanusiaan sekaligus jaminan keamanan selama tinggal sementara di pengungsian.

Operasi kemanusiaan tersebut melibatkan 100 personel Polri, 31 personel TNI, dan 68 personel Brimob Polri. Selain itu, terdapat lima personel Basarnas serta enam personel BPBD Jawa Timur yang turut mendukung penanganan lapangan.

Personel gabungan menjalankan evakuasi korban, pelayanan pengungsi, distribusi bantuan, dukungan kesehatan, pengamanan lokasi, serta patroli secara terpadu. Pembagian tugas dilakukan berdasarkan kebutuhan lapangan agar penanganan masyarakat terdampak berlangsung lebih terarah dan cepat.

Hingga 17 Agustus 2026 pukul 23.00 WITA, sebanyak 2.398 fasilitas dilaporkan mengalami kerusakan akibat gempa. Angka tersebut meningkat dibandingkan pendataan sebelumnya yang mencatat sebanyak 2.081 fasilitas mengalami kerusakan.

Kerusakan meliputi fasilitas pemerintah, pendidikan, fasilitas umum, fasilitas masyarakat, hingga sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah terdampak. Data kerusakan tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan kebutuhan penanganan serta prioritas bantuan berikutnya.

Setelah meninjau kondisi pengungsi di Kecamatan Reok, Fadil melanjutkan perjalanan menuju Lamba Leda Utara, Manggarai Timur. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi korban sekaligus memastikan penanganan bencana berjalan sesuai kebutuhan lapangan.

Kapolres Manggarai memastikan personelnya akan tetap berada bersama masyarakat selama proses penanganan bencana berlangsung di wilayah tersebut. Menurut Levi, perubahan data dan kebutuhan harus diikuti respons cepat agar bantuan tidak terlambat diterima warga.

“Data berubah, kebutuhan berubah, maka respons juga harus cepat menyesuaikan,” kata Levi mengenai strategi penanganan pengungsi. Ia menegaskan personel akan ditempatkan mengikuti kebutuhan masyarakat dan kondisi setiap lokasi pengungsian.

Operasi kemanusiaan di Manggarai kini berfokus pada penyelamatan korban, pemenuhan kebutuhan dasar, keamanan, serta pemutakhiran data lapangan. Sinergi berbagai unsur diharapkan menjaga penanganan tetap terkoordinasi hingga kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi secara bertahap.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....