Polri Pulihkan Trauma Warga Ende Pascagempa via Butterfly Hug
- 19 Agt 2026 19:54 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende - Tim Psikologi Polda NTT dan Polda Jatim mendampingi sekitar 200 warga Ende melalui trauma healing pascagempa di Flores. Kegiatan berlangsung di Bukit Sion, Kelurahan Paupire, Kecamatan Ende Tengah, Rabu, 19 Agustus 2026, mulai pukul 10.00 Wita.
Pendampingan dilakukan setelah gempa mengguncang Flores dan memicu kepanikan di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Ende.
Warga Jalan Anggrek, Paupire, menjadi sasaran kegiatan karena masih menghadapi kecemasan setelah mengalami guncangan kuat beberapa hari sebelumnya.
Tim mengajak peserta mengenali reaksi emosional, mengatur napas, dan menggunakan teknik sederhana untuk menenangkan diri ketika kecemasan muncul. Anak-anak hingga lansia mengikuti latihan dengan gerakan ringan, termasuk Butterfly Hug atau pelukan kupu-kupu secara bersama-sama di lokasi.
Teknik Butterfly Hug dilakukan dengan menyilangkan tangan di depan dada lalu menepuk bahu secara bergantian dengan ritme perlahan. Selain itu, peserta memperoleh pendampingan melalui terapi SEFT yang diarahkan untuk membantu pelepasan emosi dan membangun ketenangan pascabencana.
Kabag Psikologi Ro SDM Polda NTT Kompol Chrismawan memimpin kegiatan bersama Paur Subbagpsipers Ro SDM Polda Jatim Iptu Ellan Wahyudi. Keduanya merupakan psikolog yang didampingi tim konselor Polres Ende untuk memastikan proses pendampingan berlangsung interaktif dan mudah dipahami.
Kegiatan juga melibatkan personel kepolisian setempat yang mendampingi warga selama latihan, permainan, dan sesi pelepasan emosi berlangsung di lokasi. Suasana di Bukit Sion perlahan berubah ketika peserta mulai tertawa, bergerak bersama, dan mengikuti instruksi para pendamping dengan antusias.
Kapolres Ende, AKBP Yudhi Franata mengatakan pemulihan pascabencana perlu menyentuh kondisi psikologis warga selain penanganan fisik dan infrastruktur. Menurutnya, rasa takut setelah gempa dapat memengaruhi aktivitas harian sehingga dukungan psikologis perlu diberikan secara terpadu.
Ia menilai trauma healing membantu warga mendapatkan ruang aman untuk mengelola ketakutan dan kembali menjalani rutinitas sehari-hari mereka. Pendekatan tersebut diarahkan agar warga tidak hanya melupakan kejadian, tetapi mampu mengenali emosi dan meresponsnya secara lebih tenang.
Bagi peserta, rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana santai karena latihan dilakukan melalui gerakan, interaksi, dan permainan sederhana bersama. Kehadiran anak-anak dan lansia membuat sesi berjalan lintas generasi, dengan pendamping menyesuaikan bahasa serta gerakan sesuai kemampuan peserta.
Tim psikologi berharap latihan sederhana itu dapat digunakan warga ketika rasa takut kembali muncul setelah kegiatan berakhir di rumah. Pendampingan psikologis juga diharapkan membantu warga membangun ketahanan mental sambil menata kembali kehidupan dan aktivitas pascabencana secara bertahap
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....