STIPAR Ende Perkuat Dukungan Psikososial Penyintas Gempa
- 19 Agt 2026 20:03 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Pendampingan psikososial bagi penyintas bencana tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat, tetapi membutuhkan kehadiran yang mampu membuat mereka merasa aman dan kembali memiliki harapan. Hal tersebut menjadi perhatian dalam pelatihan dukungan psikososial bagi anak dan orang dewasa di Aula STIPAR Atma Reksa Ende, Rabu, 19 Agustus 2026.
Penanggung Jawab kegiatan, Dr. Norbertus Labu, S.Fil., M.Si., mengatakan pelatihan tersebut mempersiapkan relawan sebelum turun mendampingi masyarakat terdampak gempa. Peserta dibekali teknik dasar melalui gerak, lagu, bermain, hingga konseling pastoral.
“Pendampingan itu bukan hanya memberikan nasihat, tetapi bagaimana kita hadir bersama penyintas sehingga mereka merasa aman, tenang, dan memiliki harapan,” ujar Norbertus saat diwawancarai RRI Ende.
Ia menjelaskan, peserta berasal dari mahasiswa semester lima Program Studi Konseling Pastoral serta mahasiswa semester lima dan semester sembilan Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik, termasuk beberapa dosen. Para mahasiswa dilibatkan agar dapat mengambil bagian sebagai relawan dalam proses pendampingan di lapangan.
Norbertus mengungkapkan, pendekatan yang diperkenalkan dalam pelatihan menggunakan Model Flores dalam pendampingan psikososial. Pendekatan tersebut menekankan beberapa tahapan, yakni memastikan penyintas aman, hadir bersama mereka, membantu menenangkan kondisi, menghubungkan dengan dukungan yang tersedia, serta membangun kembali keberdayaan penyintas.
Ia menegaskan keselamatan menjadi langkah pertama yang tidak boleh diabaikan oleh seorang pendamping. Keamanan mencakup kondisi fisik dan psikologis, kebutuhan dasar seperti makanan, minuman dan tempat tinggal, kondisi medis, hingga kemungkinan adanya kekerasan.
Menurutnya, pendamping juga tidak diarahkan untuk menggali cerita traumatis penyintas secara mendalam. Pendamping lebih diutamakan untuk mendengarkan secara aktif, memahami kebutuhan dan perasaan penyintas, serta membantu mereka menemukan orang atau sumber dukungan yang dapat dipercaya.
Ia menambahkan, kondisi tertentu membutuhkan penanganan lebih lanjut melalui asesmen dan rujukan kepada tenaga profesional. Gangguan fungsi yang berat, ketidakmampuan merawat diri, kebingungan berat, kekerasan, maupun pikiran untuk mengakhiri hidup merupakan kondisi yang tidak boleh ditangani hanya oleh relawan.
Norbertus berharap keterlibatan mahasiswa dan dosen dalam pelatihan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat terdampak gempa. Ia ingin penyintas, terutama anak-anak, tetap melihat bahwa setelah bencana masih ada hari esok, kesempatan untuk bertumbuh, dan masa depan yang dapat diperjuangkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....