Gereja Ajak Korban Gempa Flores Tetap Menyalakan Harapan
- 18 Agt 2026 07:56 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende - Gereja mengajak masyarakat terdampak gempa Flores untuk tetap menyalakan harapan di tengah duka dan kehilangan yang dialami. Pesan tersebut disampaikan Servasius Yano Penyuluh Agama Katolik Kemenag Ende dalam program Mutiara Pagi, Selasa, 18 Agustus 2026, dengan tema “Ketika Segalanya Hilang, Kasih Allah Tetap Ada”.
Dalam renungan yang mengambil bacaan Matius 19:23-30, Servasius mengaitkan pesan Injil dengan kondisi masyarakat Flores yang terdampak gempa pada 15 Agustus 2026. Kehilangan rumah, ladang, mata pencaharian, hingga orang-orang terkasih disebut bukan lagi sekadar gambaran rohani, tetapi menjadi kenyataan yang dialami masyarakat.
Servasius menyampaikan duka mendalam kepada masyarakat yang kehilangan anggota keluarga, rumah, maupun mata pencaharian akibat gempa dan gempa susulan. Ia mengajak masyarakat percaya bahwa Tuhan tetap menyertai mereka dalam situasi duka dan ketidakpastian.
Pesan Injil Matius menegaskan bahwa bagi manusia sesuatu dapat terlihat mustahil, tetapi bagi Allah segala sesuatu menjadi mungkin. Pesan tersebut menjadi sumber pengharapan bagi masyarakat yang sedang berjuang untuk bangkit dan memulihkan kehidupan setelah bencana.
Menurut Servasius, Yesus tidak mengabaikan pengorbanan para murid yang meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti-Nya. Janji menerima kembali berlipat ganda dimaknai sebagai hadirnya komunitas iman yang dapat menjadi keluarga, rumah, dan saudara baru bagi mereka yang kehilangan.
Karena itu, Gereja dan masyarakat diajak menjadi tangan Tuhan yang nyata bagi para korban bencana. Membuka rumah, berbagi pangan dan air bersih, serta menyediakan tempat perlindungan menjadi bentuk solidaritas yang dapat dirasakan langsung oleh mereka yang membutuhkan.
Servasius juga mengajak masyarakat di luar wilayah terdampak untuk mengambil bagian dalam pemulihan. Waktu, harta, doa, dan tenaga dapat diberikan sebagai bentuk kepedulian kepada warga Flores yang sedang menghadapi kehilangan.
Selain solidaritas, renungan tersebut menekankan pentingnya keadilan dalam proses pemulihan pascabencana. Pembangunan kembali diharapkan tidak hanya memprioritaskan infrastruktur besar, tetapi juga memperhatikan masyarakat kecil, petani, nelayan, serta warga yang kehilangan sumber mata pencaharian.
Kesiapsiagaan bencana juga disebut sebagai bentuk kasih untuk melindungi generasi mendatang. Edukasi mitigasi bencana, pembangunan tahan gempa, serta sistem peringatan dini perlu diperkuat mengingat wilayah Flores dan Nusa Tenggara Timur memiliki pengalaman menghadapi gempa berulang.
Menutup renungannya, Servasius mengajak pendengar merefleksikan bagaimana menjadi rumah dan saudara bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal. Ia juga mengajak umat mempertanyakan apa yang dapat diberikan dan tetap percaya bahwa di tengah runtuhan serta air mata, kasih Allah tetap ada dan segala sesuatu masih mungkin terjadi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....