Gempa 7,7 Guncang Nagekeo, Tsunami Capai 0,94 Meter

  • 15 Agt 2026 11:31 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nagekeo dan Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA dengan episenter 30 kilometer utara laut Mbay dan kedalaman 15 kilometer.
  • Gempa tersebut tergolong dangkal dan dipicu aktivitas sesar aktif dengan mekanisme sesar naik (back thrust) menurut Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama.
  • Guncangan dirasakan kuat di sekitar Nagekeo dan Ngada, sementara getaran juga terasa hingga Ende, Borong, dan Ruteng dengan tingkat intensitas yang bervariasi.

RRI.CO.ID, Kupang - Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nagekeo dan sejumlah daerah di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA. BMKG mencatat episenter gempa berada pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur, sekitar 30 kilometer utara laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.

Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, kepada RRI di Florata Pagi, Sabtu, 15 Agustus 2026, mengatakan gempa tersebut tergolong dangkal dan dipicu aktivitas sesar aktif dengan mekanisme sesar naik atau back thrust. Guncangan dirasakan kuat di wilayah sekitar Nagekeo dan Ngada, sementara getaran juga dirasakan hingga Ende, Borong, dan Ruteng, dengan tingkat intensitas yang berbeda di masing-masing wilayah.

Gempa tersebut juga memicu tsunami yang terpantau di sejumlah wilayah pesisir Nusa Tenggara dan sekitarnya, dengan ketinggian tertinggi tercatat 0,94 meter di Maurole, Ende. BMKG juga mencatat gelombang tsunami di Bakalang-Alor 0,14 meter, Dompu 0,17 meter, Flores Timur 0,25 meter, Labuan Bajo 0,36 meter, Pelabuhan Kewapante-Sikka 0,38 meter, serta Sikka 0,19 meter.

Arief menyebut gempa susulan masih terjadi setelah gempa utama, sehingga masyarakat diminta tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan, retak berat, atau kemiringan struktur. Hingga pemantauan BMKG pada pagi hari, tercatat 24 kejadian gempa susulan, sementara masyarakat di wilayah pesisir dan sekitar tebing juga diminta tetap waspada terhadap potensi bahaya lanjutan.

BMKG menegaskan gempa bumi belum dapat diprediksi secara pasti terkait waktu, lokasi, maupun kekuatannya, sehingga masyarakat tidak perlu mempercayai informasi yang mengklaim dapat memastikan datangnya gempa berikutnya. Masyarakat diminta memeriksa setiap informasi melalui kanal resmi BMKG, BPBD, serta sistem peringatan dini tsunami Indonesia, dan tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.

Setelah guncangan berhenti, masyarakat yang berada di bangunan rusak diminta segera menuju tempat aman dan tidak kembali beraktivitas di dalam bangunan sebelum dinyatakan layak. BMKG juga mengingatkan warga di sekitar pantai dan muara sungai untuk tetap menjauh apabila terjadi gempa kuat, sementara masyarakat di kawasan perbukitan perlu menghindari tebing yang berpotensi longsor.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....