Romo Patrick Apresiasi SMPK St Stefanus Ketang, Dorong Masuk Program Revitalisasi
- 13 Agt 2026 17:37 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai – Ketua Yayasan Persekolahan Sukma Pusat (Yapersukma) Keuskupan Ruteng, Romo Patrick Dharsam Guru, mengapresiasi perjalanan 40 tahun atau Panca Windu SMPK Santo Stefanus Ketang dalam mendidik dan membentuk karakter generasi muda di Kabupaten Manggarai.
Kepada RRI, Rabu pagi 12 Agustus 2026, ia mengatakan perayaan Panca Windu menjadi momentum penting untuk mensyukuri perjalanan panjang sekolah sekaligus menatap tantangan pendidikan ke depan. Menurutnya, empat dekade perjalanan SMPK Santo Stefanus Ketang tidak hanya mencerminkan usia sekolah, tetapi juga menjadi bukti kerja keras, pengorbanan, dan kontribusi para pendiri, guru, tenaga kependidikan, orang tua, yayasan, pemerintah, masyarakat, alumni, serta para peserta didik.
“Empat puluh tahun bukan sekadar angka. Di dalamnya ada perjalanan panjang, kerja keras, pengorbanan, kesetiaan, dan kontribusi dari begitu banyak orang: para pendiri, guru, tenaga kependidikan, orang tua, yayasan, pemerintah, masyarakat, alumni, dan terutama anak-anak yang telah dididik di sekolah ini," ungkapnya.
Lebih lanjut, Rm. Patrick mendorong SMPK Santo Stefanus Ketang agar dapat masuk dalam program revitalisasi sekolah pemerintah, sehingga dukungan terhadap sekolah swasta Katolik semakin diperluas. Menurutnya, sekolah swasta Katolik merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional dan telah berkontribusi dalam mencerdaskan generasi bangsa.
"Apalagi, SMPK Santo Stefanus Ketang baru-baru ini ditetapkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai salah satu Sekolah Model," ujarnya.
Ia menilai keberhasilan sekolah tidak semata-mata diukur dari kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga dari keberhasilannya membentuk generasi yang berkarakter, beriman, bertanggung jawab, terampil, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Rm. Patrick menyebut, momentum 40 tahun diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial maupun nostalgia, tetapi menjadi titik awal untuk memperkuat kualitas pendidikan dan mengembangkan berbagai potensi peserta didik.
"Perayaan ini jangan hanya menjadi nostalgia melihat apa yang sudah dicapai selama 40 tahun. Momentum ini harus menjadi kesempatan untuk bertanya: setelah 40 tahun, sekolah ini mau menjadi apa dan akan membawa anak-anak kita ke mana?" Katanya.
Ia berharap momentum Panca Windu menjadi energi baru bagi seluruh keluarga besar SMPK Santo Stefanus Ketang untuk terus berkembang, berbenah, dan meningkatkan kualitas pendidikan bagi para peserta didik.
Lebih lanjut, Romo Patrick juga menyoroti potensi peserta didik di bidang seni, khususnya musik, yang dinilai perlu mendapat perhatian dan ruang pengembangan secara serius. Menurutnya, setiap bakat peserta didik harus diarahkan melalui pembinaan dan kesempatan yang memadai, baik dalam bidang musik, seni, olahraga, teknologi, maupun bidang lainnya.
Ia menambahkan, Yapersukma Pusat terus mendorong SMPK Santo Stefanus Ketang meningkatkan kualitas pembelajaran, karakter, literasi, numerasi, teknologi, seni, olahraga, serta berbagai potensi peserta didik. Perkembangan sekolah, lanjutnya, tidak hanya dilihat dari jumlah peserta didik, tetapi juga kualitas guru, proses pembelajaran, karakter siswa, prestasi sekolah, serta tingkat kepercayaan masyarakat.
Dalam momentum Panca Windu tersebut, Yapersukma Pusat juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pengembangan sarana dan prasarana SMPK Santo Stefanus Ketang. Romo Patrick mengungkapkan tambahan ruang guru dan ruang kelas baru sebagai salah satu bentuk dukungan yang membantu sekolah meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan.
“Atas nama Bapak Uskup sebagai Pembina Yayasan dan atas nama Yapersukma Pusat, kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Yayasan Bhineka Bhakti Nusantara, khususnya Bapak Billy dan para donatur yang memiliki perhatian besar terhadap dunia pendidikan, terutama pembangunan dan perbaikan sekolah-sekolah Katolik,” ujarnya.
Status tersebut, kata dia, merupakan bentuk kepercayaan sekaligus tanggung jawab bagi sekolah untuk terus meningkatkan mutu pembelajaran, sumber daya manusia, serta sarana dan prasarana.
Romo Patrick menegaskan, Yapersukma Pusat juga memberikan perhatian terhadap kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan. Namun, peningkatan kesejahteraan tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan finansial yayasan dan kondisi keuangan sekolah.
Menurutnya, peningkatan kesejahteraan guru merupakan bagian penting dari investasi pendidikan. Penyesuaian uang sekolah dari tahun ke tahun salah satunya diarahkan agar yayasan memiliki kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan.
“Kita tidak ingin guru yang menjadi ujung tombak pendidikan justru tidak mendapatkan perhatian yang layak. Tetapi peningkatan kesejahteraan harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas dan tanggung jawab,” katanya.
Ia menekankan, peningkatan kesejahteraan harus diikuti peningkatan profesionalisme, kedisiplinan, dedikasi, dan kualitas pelayanan guru kepada peserta didik. Menurutnya, ekosistem pendidikan yang sehat hanya dapat dibangun melalui kerja sama antara yayasan, kepala sekolah, guru, orang tua, komite, peserta didik, alumni, pemerintah, dan masyarakat.
Ia mengajak seluruh keluarga besar SMPK Santo Stefanus Ketang membangun sense of belonging atau rasa memiliki terhadap sekolah.
“Gedung boleh dibangun oleh para donatur, tetapi masa depan sekolah harus dibangun bersama,” tuturnya.
Romo Patrick berharap 40 tahun perjalanan pertama SMPK Santo Stefanus Ketang menjadi fondasi untuk menyongsong empat dekade berikutnya dengan semangat kebersamaan, inovasi, integritas, dan komitmen meningkatkan mutu pendidikan.
“Selamat merayakan Panca Windu SMPK Santo Stefanus Ketang. Mari bergandengan tangan membangun sekolah Katolik yang semakin unggul, berkualitas, berkarakter, dan mampu melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, berintegritas, serta berakar kuat dalam iman,” ucap Rm. Patrick.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....