Nasionalisme Anak Muda Kini Diukur dari Karya dan Kontribusi Nyata
- 13 Agt 2026 13:18 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende- Nasionalisme anak muda di era digital tidak cukup hanya ditunjukkan melalui upacara bendera, tetapi perlu diwujudkan dalam karya dan kontribusi nyata bagi bangsa. Guru Pendidikan Pancasila SMA Katolik Giovanni Kupang, Angelina Megi Gadhe Banggo, S.Pd., mengatakan menjadi orang Indonesia pada zaman sekarang berarti mampu memberikan manfaat bagi negara melalui kemampuan yang dimiliki.
Pandangan tersebut disampaikan Angelina saat diwawancarai Pro 2 RRI Ende dalam program Obras Obrolan Spada, Senin 10 Agustus 2026. Perbincangan itu mengangkat tema “Apa Arti Jadi Orang Indonesia di Zaman Sekarang?” yang dikaitkan dengan kehidupan generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi.
Ia mengatakan, perubahan global yang berlangsung cepat membuat anak muda memiliki tantangan sekaligus peluang yang semakin besar. Ia menilai modernisasi harus dipandang sebagai kekayaan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan terobosan positif. Karena itu, generasi muda perlu bertanya sejauh mana kemampuan yang dimiliki dapat memberikan dampak bagi Indonesia. “Di zaman sekarang menjadi orang Indonesia itu lebih ke kita berguna atau tidak untuk negara kita sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, bentuk nasionalisme tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau kepatuhan terhadap aturan. Pelajar dapat menunjukkan kecintaan terhadap bangsa dengan rajin belajar, mengembangkan kemampuan, menghasilkan karya, serta menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Sementara itu, mereka yang sudah bekerja dapat memberikan kontribusi melalui profesi masing-masing.
Menurut Angelina, melestarikan budaya juga merupakan bagian dari praktik nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kecintaan terhadap Indonesia dapat diwujudkan dengan memperkenalkan kekayaan budaya kepada generasi lain. Hal tersebut menjadi semakin penting ketika generasi muda berhadapan dengan berbagai pengaruh budaya dari luar melalui ruang digital.
Ia melihat media sosial memberikan ruang yang luas bagi anak muda untuk menunjukkan kreativitas sekaligus memperkenalkan potensi Indonesia. Platform digital dapat digunakan untuk membuat konten edukatif, mengangkat budaya lokal, memperkenalkan lingkungan sekitar, dan menyampaikan gagasan yang membangun. Dengan cara tersebut, teknologi tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi alat untuk memperkuat kecintaan terhadap bangsa.
Ia menambahkan, setiap orang memiliki bentuk pengabdian yang berbeda sesuai kapasitasnya. Guru bertanggung jawab mendidik, penyiar menjalankan tugasnya dengan baik, sedangkan pelajar dapat berkontribusi melalui proses belajar dan pengembangan diri. Ia menilai Indonesia membutuhkan generasi muda yang mampu berpikir kreatif dan berani menghadapi tantangan dunia.
Ia berharap anak muda tidak membiarkan potensi yang dimiliki berhenti tanpa menghasilkan manfaat. Generasi muda diminta terus belajar, menemukan jati diri, serta menggunakan kemampuan mereka untuk kepentingan bangsa. “Silakan belajar, temukan jati diri, bergelut dengan dunia sesuai kemampuan yang sudah ada dan jangan biarkan kemampuan itu sia-sia,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....