Anggun Penuh Makna, Sanggar Wela Songke Bawa Tari Tiba Meka di Rakerda PAN Manggarai
- 12 Agt 2026 10:32 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai - Lima peserta dari Sanggar Wela Songke SMAK Setia Bakti Ruteng tampil memukau saat membawakan Tarian Tiba Meka pada kegiatan Rakerda dan Pelantikan Pengurus DPC PAN Se-Kabupaten Manggarai di Aula Efata SMAK St. Aloisius Ruteng, Kabupaten Manggarai, Selasa 11 Agustus 2026. Tarian ini menjadi sajian pembuka yang hangat sebelum rangkaian acara resmi bergulir.
Tampil dalam balutan busana biru yang selaras dengan warna Partai PAN, lima penari yang terdiri dari dua pria dan tiga wanita, langsung menyedot perhatian ratusan kader yang hadir. Setiap gerak tangan dan lenggokan tubuh yang berpadu dalam setiap irama yang begitu harmonis akhirnya suskes memantik riuh tepuk tangan dari para peserta.
Pendiri Sanggar Wela Songke, Irna Aburman, kepada RRI menjelaskan, Tari Tiba Meka merupakan tarian tradisional asal Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Nama Tiba Meka berasal dari kata Tiba yang berarti menerima dan Meka yang berarti tamu. Tarian ini menjadi simbol keramahan sekaligus bentuk penghormatan masyarakat Manggarai kepada setiap tamu yang datang.
Irna lebih lanjut menjelaskan, Tari Tiba Meka dirancang berdasarkan pola tradisi budaya Manggarai dengan tata cara penyambutan yang sarat makna. Rangkaian tarian diawali dengan Reis Tiba Di'a, yakni menyapa atau menyambut tamu dengan ramah, kemudian dilanjutkan dengan Reis Agu Raos Cama Laing, yang menggambarkan suasana berbagi sukacita dan kegembiraan.
Selanjutnya, terdapat Wisi Loce, yakni menggelar tikar khas Manggarai sebagai tempat duduk terhormat bagi tamu. Prosesi ini menjadi bentuk penghormatan kepada tamu yang datang. Sementara, Pandeng Cepa ditandai dengan penari perempuan menyuguhkan sirih pinang sebagai simbol penghormatan, kebersamaan, dan kekeluargaan.
"Semua maknanya itu kan dirangkaikan dalam setiap gerakan penari tadi," ungkapnya.
Menurut Irna, Tari Tiba Meka menggunakan dua gerakan utama, yakni Sae dan Ndundundake. Gerakan Sae memiliki makna yang tercermin dari arah dan posisi hadap penari, yang menggambarkan keterkaitan manusia dengan alam sekaligus menegaskan bahwa kehidupan manusia senantiasa berpusat pada Tuhan Sang Pemberi Kehidupan, Mori Jari Agu Dedek.
Sementara itu, gerakan Ndundundake mengandung makna ketegasan, kewibawaan, serta sikap terbuka dalam menerima dan menyambut setiap tamu yang datang.
"Intinya, tarian ini mencerminkan keramahan dan rasa hormat masyarakat Manggarai kepada tamu yang datang," katanya.
Penampilan kelima penari Sanggar Wela Songke itu pun menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai kegiatan formal, budaya lokal tetap memiliki ruang untuk hadir, menyapa, dan memperkenalkan jati diri Manggarai kepada siapa pun yang datang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....