Orang Tua Didorong Seimbangkan Gadget dengan Aktivitas Mendongeng
- 11 Agt 2026 15:02 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Dongeng dapat menjadi salah satu aktivitas untuk memberikan jeda kepada anak dari paparan gadget sekaligus membuka ruang bagi mereka mengembangkan imajinasi. Kegiatan bercerita juga dapat membantu anak memperkaya kosakata, melatih fokus, serta memahami berbagai emosi melalui tokoh dan peristiwa dalam cerita.
Community and Event Manager Ayo Dongeng Indonesia, Kurniawati Yuli Pratiwi, mengatakan penggunaan screen time pada anak perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan. Hal tersebut disampaikannya dalam siaran Florata Malam – Komunitas Bicara Pro 1 RRI Ende, Sabtu 8 Agustus 2026.
Menurut Kurniawati, dongeng dapat menjadi salah satu aktivitas yang memberikan jeda ketika anak terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar. Melalui cerita, anak dapat mengembangkan imajinasi tanpa harus mengalami langsung peristiwa yang disampaikan.
Aktivitas mendongeng juga dapat menjadi kesempatan bagi orang tua dan anak untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama. Interaksi tersebut memungkinkan orang tua tetap hadir mendampingi anak di tengah kuatnya pengaruh konten digital.
Ia mengatakan, dongeng memiliki berbagai manfaat bagi perkembangan anak, mulai dari kemampuan bahasa, pemahaman emosi dan karakter, kemampuan sosial, hingga berpikir kritis. Setelah mendongeng, orang tua juga disarankan mengajak anak berdiskusi mengenai cerita yang baru didengar.
Diskusi tersebut dapat membantu orang tua mengetahui hal yang dipahami anak sekaligus memberikan ruang bagi anak untuk mengembangkan pola pikir dan menyampaikan pendapat.
Kurniawati menegaskan teknologi tidak harus menjadi musuh dalam kegiatan mendongeng. Video, audio, ilustrasi gambar, maupun YouTube dapat dimanfaatkan sebagai sumber cerita atau alat bantu agar kegiatan bercerita lebih beragam.
Orang tua, misalnya, dapat menonton dongeng bersama anak kemudian membicarakan kembali isi cerita setelah tayangan selesai. Anak juga dapat diminta menceritakan kembali bagian yang disukai maupun nilai yang diperoleh dari cerita tersebut.
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada penggunaan teknologi, tetapi pada posisi teknologi dalam hubungan antara orang tua dan anak. Teknologi sebaiknya menjadi alat bantu, bukan pengganti interaksi manusia.
"Mendongeng merupakan seni berkomunikasi yang membutuhkan pencerita dan pendengar. Karena itu, kehadiran orang tua tetap menjadi bagian utama meskipun kegiatan bercerita menggunakan media digital," ujarnya.
Ayo Dongeng Indonesia juga memiliki sejumlah kegiatan untuk memperkenalkan budaya mendongeng kepada masyarakat. Di antaranya Dongeng Kejutan, Kelas Dongeng, Sekolah Cerita, Kemah Cerita, serta berbagai kegiatan dongeng tematik bersama komunitas lain.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anak, orang tua, relawan, guru, maupun masyarakat untuk berinteraksi melalui cerita.
Kurniawati menambahkan, kegiatan mendongeng dapat dikembangkan untuk berbagai kelompok usia. Komunitas tersebut pernah menggelar kegiatan bercerita untuk anak-anak, pelajar SMP dan SMA, hingga kelompok lanjut usia di panti.
Menurutnya, mendongeng tidak mengenal batas usia karena setiap orang memiliki ketertarikan untuk mendengarkan cerita. Aktivitas tersebut dapat dikembangkan sesuai karakter, kebutuhan, dan pengalaman pendengarnya.
Kurniawati berharap keluarga dapat menjadikan dongeng sebagai salah satu pilihan untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap konten digital. Teknologi tetap dapat digunakan secara bijak tanpa mengurangi kesempatan anak berkomunikasi langsung dengan orang tua.
Melalui kebiasaan bercerita, anak diharapkan memiliki ruang untuk mengembangkan imajinasi, kosakata, kreativitas, dan kemampuan sosial. Mendongeng juga diharapkan menjadi kebiasaan sederhana yang terus tumbuh di dalam keluarga Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....