Sosialisasi IRET, Densus 88 Ingatkan Ancaman Perekrutan Anak lewat Game Online
- 08 Agt 2026 15:13 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Tim Pencegahan Satgaswil NTT Densus 88 Antiteror Polri mengingatkan adanya modus baru perekrutan anak ke dalam paham radikal melalui ruang digital, termasuk game online dan media sosial.
Peringatan itu disampaikan saat sosialisasi bahaya Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) kepada 339 siswa kelas XI dan XII MAN Manggarai Barat di Aula MAN Manggarai Barat, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis 6 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala MAN Manggarai Barat Muhammad Wahidsin bersama 63 guru dan tenaga kependidikan. Katim Pencegahan Satgaswil NTT Densus 88 AT Polri, Iptu Silvester Guntur, mengatakan perekrutan kelompok radikal kini banyak memanfaatkan ruang digital yang dekat dengan keseharian anak-anak.
Menurutnya, perekrut dapat menyamar sebagai teman bermain game, rekan berdiskusi di media sosial, maupun akun anonim. Hubungan kemudian dibangun melalui percakapan ringan sebelum korban diarahkan ke grup atau platform komunikasi yang lebih tertutup.
“Anak-anak menjadi target utama karena lebih mudah dipengaruhi. Perekrutan biasanya diawali dengan membangun pertemanan melalui media sosial atau game online,” katanya.
Iptu Silvester juga menyampaikan, propaganda radikal juga dikemas dalam bentuk konten yang menarik, seperti video pendek, animasi, meme, musik, hingga potongan gambar kekerasan. Konten tersebut digunakan untuk membangkitkan emosi dan secara perlahan memengaruhi cara pandang anak terhadap kekerasan.
Ia menyebut secara nasional sedikitnya 150 anak pernah terpapar paham radikal dan 13 anak diketahui terlibat dalam tindak pidana terorisme. Densus 88 juga mencermati kemunculan True Crime Community (TCC) yang menjadi salah satu ruang penyebaran ideologi kekerasan kepada anak.
Menurutnya, kelompok radikal menyasar anak yang berada dalam kondisi psikologis rentan, termasuk korban perundungan, anak yang kurang mendapat perhatian, maupun mereka yang mengalami persoalan dalam lingkungan keluarga.
“Bullying menjadi salah satu pintu masuk yang paling berbahaya. Anak yang frustrasi jauh lebih mudah dimanfaatkan oleh kelompok penyebar ideologi kekerasan,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala MAN Manggarai Barat Muhammad Wahidsin, mengatakan perkembangan teknologi digital menjadi tantangan bagi dunia pendidikan. Sekolah, kata dia, tidak hanya bertugas memberikan pembelajaran akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kemampuan berpikir kritis siswa.
“Informasi kini bergerak sangat cepat dan dapat diakses siapa saja. Namun tidak semua informasi membawa dampak positif bagi perkembangan peserta didik,” ujarnya.
Dirinya berharap, edukasi mengenai bahaya IRET dapat memperkuat daya tangkal siswa terhadap berbagai paham yang dapat mengancam masa depan generasi muda.
Selain itu Ia menegaskan paparan radikalisme berlangsung secara bertahap, dimulai dari perubahan cara berpikir hingga seseorang menerima kekerasan sebagai sesuatu yang dibenarkan.
“Terorisme adalah sebuah proses. Dimulai dari intoleransi, berkembang menjadi radikalisme, kemudian ekstremisme, dan berujung pada terorisme,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengaitkan terorisme dengan agama tertentu. Menurutnya, persoalan utama terletak pada proses manipulasi dan penyebaran ideologi kekerasan yang memanfaatkan kerentanan seseorang.
“Semua orang berpotensi terpapar apabila tidak memiliki ketahanan diri. Karena itu jangan pernah mengaitkan terorisme dengan agama tertentu,” ungkapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....