Perpustakaan Desa Bangkit, Literasi Warga Menguat
- 31 Jul 2026 20:42 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Flores Timur – Perpustakaan Desa Nuhalolon, Kabupaten Flores Timur, berhasil bangkit dari kondisi terbengkalai menjadi ruang literasi yang aktif setelah dikelola kembali oleh anak-anak muda desa sejak 2020. Kebangkitan itu tidak hanya meningkatkan minat baca anak-anak, tetapi juga memperkuat ruang dialog sosial dan budaya di tengah masyarakat.
Kisah tersebut disampaikan Afryantho Keyn, Pengurus Rumpi Nuhalolon, dalam wawancara pada segmen CLBK Pro 2 RRI Ende, Selasa, 14 Juli 2026. Ia menjelaskan perpustakaan desa yang dibangun pada 2014 sempat mengalami kemunduran karena tidak lagi memiliki pengelola. Saat mereka kembali ke kampung pada awal 2020, fasilitas seperti komputer dan alat permainan edukatif telah rusak, sementara yang tersisa hanya koleksi buku.
Berangkat dari kondisi tersebut, tujuh pemuda membentuk kepengurusan baru dan memilih mempertahankan perpustakaan sebagai pusat belajar masyarakat. Kini koleksi perpustakaan mencapai sekitar 1.500 judul, sebagian berasal dari anggaran desa, bantuan Perpustakaan Nasional RI, Dinas Perpustakaan Kabupaten Flores Timur, serta donasi berbagai komunitas literasi di Flores.
Menurut Afryantho, tantangan terbesar bukan sekadar menambah buku, melainkan menghadirkan pembaca. Karena itu pengelola membuat berbagai inovasi seperti lapak buku di lokasi bermain anak, pemutaran film edukatif yang diikuti diskusi, adaptasi cerita menjadi pertunjukan teater, hingga festival literasi tahunan agar anak-anak tidak hanya datang membaca, tetapi juga aktif berkreasi.
Program tersebut perlahan menunjukkan dampak nyata. Guru-guru yang menjadi pengurus melihat anak-anak lebih percaya diri menyampaikan pendapat di sekolah karena terbiasa berdiskusi dan mempresentasikan buku yang dibaca. Orang tua juga mulai merasakan perubahan perilaku anak yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar dibanding bermain gawai.
Tidak berhenti pada literasi membaca, Rumpi Nuhalolon juga mengembangkan forum diskusi mengenai sejarah kampung, sumber mata air, tradisi bertani, dan budaya lokal. Afryantho mengatakan ruang diskusi itu menjadi upaya mendokumentasikan pengetahuan masyarakat agar tidak hilang sekaligus memperkuat posisi komunitas dalam menyampaikan aspirasi pembangunan manusia melalui literasi di forum musyawarah desa.
Ke depan, komunitas tersebut menargetkan penerbitan majalah komunitas sebagai media dokumentasi hasil membaca dan diskusi warga sehingga pengetahuan lokal dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....