Pulau Lembata Kembali Disorot Dunia, Peneliti Cari Jejak Peradaban Pesisir Tertua

  • 27 Jul 2026 15:05 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Lembata – Pulau Lembata, NTT, kembali menjadi perhatian dunia. Tim peneliti dari Indonesia dan Tiongkok akan melakukan penelitian arkeologi internasional untuk mengungkap jejak permukiman masyarakat pesisir yang diperkirakan telah ada sejak 2.800–3.000 tahun lalu. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman tentang asal-usul, perkembangan, dan persebaran leluhur bangsa Indonesia.

Penelitian yang berlangsung pada 28 Juli hingga 25 Agustus 2026 ini diharapkan membuka tabir sejarah asal-usul leluhur Nusantara sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam kajian migrasi manusia di kawasan Asia-Pasifik. Dukungan terhadap penelitian ini disampaikan Gubernur NTT, Melki Laka Lena, saat menerima audiensi tim peneliti di Rumah Jabatan Gubernur, Sabtu 25 Juli 2026.

Penelitian bertajuk Archaeological Excavation and Multidisciplinary Investigation of Neolithic Coastal Settlement on Lembata Island, Indonesia, merupakan kolaborasi antara Pusat Penelitian Prasejarah dan Austronesia (CPAS), Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Peking University, dan Fujian Provincial Institute of Archaeology yang melibatkan arkeolog, mahasiswa doktoral, serta ahli geologi dari Indonesia dan Tiongkok.

Ketua tim peneliti, Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak, Ph.D., mengatakan Lembata dipilih karena memiliki posisi strategis dalam jalur migrasi manusia dari daratan Asia menuju Kepulauan Nusantara. Menurutnya, penelitian sebelumnya telah menemukan indikasi permukiman kuno di Situs Lewoleba I yang mencakup kawasan hunian, area pemakaman, dan temuan tembikar berusia sekitar tiga milenium.

Selain ekskavasi di Lewoleba I, tim juga akan melakukan survei di Lewoleba II dan Wai Pukang untuk mengungkap pola permukiman, teknologi, budaya, hubungan antarpulau, hingga kronologi kehidupan masyarakat pesisir pada masa Neolitik. "Kalau kita berbicara tentang bangsa Indonesia, jangan hanya melihat Indonesia hari ini. Bangsa ini memiliki akar sejarah yang sangat panjang hingga ribuan tahun ke masa silam. Penelitian ini berupaya menelusuri akar tersebut, dan kami memulainya dari Lembata," ujar Prof. Harry.

Ia menambahkan, apabila penelitian menghasilkan temuan penting, pihaknya berencana membangun pusat penyimpanan atau workstation temuan arkeologi di Kota Kupang sebagai fasilitas pelestarian, dokumentasi, dan penelitian lanjutan. Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena menyambut baik pelaksanaan penelitian tersebut dan menilai hasilnya akan memperkaya pemahaman mengenai sejarah awal Nusantara.

Menurutnya, penelitian ilmiah dapat melengkapi berbagai mitos, legenda, dan tradisi lisan yang hidup di masyarakat NTT dengan bukti-bukti arkeologis yang dapat dipertanggungjawabkan. Selain memperkuat pelestarian warisan budaya, penelitian ini diharapkan meningkatkan literasi sejarah generasi muda serta menegaskan Pulau Lembata sebagai salah satu kawasan penting dalam penelitian arkeologi dan sejarah peradaban Nusantara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....