Kemenag Flores Timur Serukan Pendidikan Ramah Anak tanpa Kekerasan

  • 24 Jul 2026 13:53 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Kemenag Flores Timur mengajak seluruh satuan pendidikan mewujudkan lingkungan belajar yang ramah anak, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
  • Guru didorong menjadi teladan dengan mengedepankan kesabaran, kasih sayang, dan pengendalian emosi dalam mendampingi peserta didik.
  • Gernas RANA menjadi penguat komitmen perlindungan anak, termasuk memastikan anak berkebutuhan khusus memperoleh layanan pendidikan yang aman dan setara.

RRI.CO.ID, Flotim - Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur, Yosef Aloysius Babaputra, menegaskan pentingnya membangun budaya pendidikan yang ramah anak dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Pesan itu disampaikannya bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional ke-42, Kamis, 23 Juli 2026 di Taman Seminari St. Clara Pohon Bao serta RA Al-Mujahidin Larantuka.

Menurut Yosef, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan sekolah menghadirkan ruang yang aman, nyaman, dan penuh kasih bagi setiap anak. Ia menegaskan, setiap pendidik memiliki tanggung jawab menjadi teladan dalam mengendalikan emosi dan mengedepankan pendekatan yang humanis dalam mendampingi peserta didik.

"Melayani anak-anak adalah ibadah. Di situlah kita belajar melatih kesabaran, mengendalikan emosi, dan menghadirkan kasih dalam proses pendidikan," kata Yosef.

Yosef juga mengingatkan agar tidak ada lagi praktik kekerasan, baik fisik maupun verbal, di lingkungan pendidikan karena dapat menghambat tumbuh kembang anak dan meninggalkan dampak psikologis yang berkepanjangan.

Dalam kesempatan tersebut, ia turut mengampanyekan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) sebagai upaya memperkuat budaya perlindungan anak di seluruh satuan pendidikan dan layanan keagamaan. Menurutnya, sekolah harus menjadi tempat yang membuat anak merasa aman untuk belajar, bermain, dan berani menyampaikan persoalan yang dihadapi kepada guru maupun orang tua.

Yosef juga meminta para pendidik memberikan perhatian lebih kepada anak berkebutuhan khusus agar memperoleh hak belajar yang setara tanpa diskriminasi. Pendekatan yang inklusif, katanya, merupakan bagian penting dalam mewujudkan pendidikan yang berkeadilan.

Kementerian Agama Kabupaten Flotim menegaskan komitmennya membangun budaya pendidikan yang mengutamakan perlindungan anak dan menghormati hak-hak peserta didik Selain itu juga menjadikan kasih sayang sebagai fondasi utama dalam proses pembelajaran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....