Peringati HAN ke-42, Densus 88 Edukasi Pelajar Tangkal Radikalisme di Ruang Digital
- 23 Jul 2026 22:32 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai – Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri mengajak para pelajar di Kabupaten Manggarai meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme melalui ruang digital, terutama media sosial dan permainan daring (game online).
Pesan tersebut disampaikan Ketua Tim Pencegahan Paham Intoleran, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme Densus 88 Antiteror Mabes Polri, Silvester Guntur, saat memberikan edukasi dalam rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 tingkat Kabupaten Manggarai di Natas Labar, Motang Rua, Kamis 23 Juli 2026.
Silvester mengatakan perkembangan teknologi digital memberikan banyak manfaat, tetapi di sisi lain juga dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan paham radikal kepada anak-anak dan remaja. Karena itu, generasi muda perlu memahami berbagai risiko yang ada di ruang digital.
"Saat ini hampir seluruh aktivitas dilakukan melalui telepon genggam. Di dalamnya terdapat media sosial dan berbagai permainan daring. Karena itu, anak-anak harus memahami bahwa ruang digital juga memiliki risiko yang perlu diwaspadai," ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu modus yang digunakan kelompok radikal ialah mendekati anak-anak melalui permainan daring populer, seperti Free Fire, Mobile Legends, Roblox, dan gim lainnya. Pendekatan biasanya diawali dengan ajakan bermain bersama (mabar) untuk membangun kedekatan dan kepercayaan.
Setelah hubungan terjalin, pelaku kemudian mengajak korban bergabung ke dalam grup percakapan di berbagai platform, seperti WhatsApp, Facebook, maupun Telegram. Melalui grup tersebut, mereka secara bertahap membangun loyalitas sebelum menyebarkan konten bermuatan paham radikal hingga materi yang membahayakan.
"Ketika anak-anak sudah merasa nyaman, mereka mulai dipengaruhi secara bertahap. Bahkan ada yang diberikan materi tentang cara membuat bom, merakit senjata, hingga penggunaan senjata tajam," ungkapnya.
Menurut Silvester, anak-anak yang menjadi korban perundungan (bullying) sering kali menjadi sasaran karena dinilai lebih mudah dipengaruhi. Kondisi psikologis mereka dimanfaatkan dengan membangkitkan keinginan untuk membalas perlakuan yang diterima, kemudian diarahkan pada tindakan yang mengarah pada kekerasan dan radikalisme.
Ia juga menyinggung adanya kasus yang melibatkan seorang pelajar di Sumatera Barat yang diduga merencanakan aksi penyerangan setelah terpapar paham radikal. Lebih lanjut, Silvester mengungkapkan hasil pemantauan menunjukkan terdapat anak-anak di Nusa Tenggara Timur yang terpapar paham radikal melalui permainan daring.
Densus 88 bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak terus memperkuat edukasi sebagai langkah pencegahan sejak dini. Selain melalui permainan daring, pelaku juga memanfaatkan metode phishing, yakni mengirimkan tautan (link) kepada calon korban untuk mencuri data pribadi atau mengarahkan mereka ke jaringan tertentu.
"Kami mengimbau anak-anak agar tidak sembarangan membuka tautan yang dikirim oleh orang yang tidak dikenal. Begitu juga jika menerima telepon dari nomor asing, pastikan terlebih dahulu identitas penelepon sebelum meresponsnya," katanya.
Silvester juga mengajak para orang tua berperan aktif mendampingi anak saat menggunakan telepon genggam. Orang tua diharapkan secara berkala memantau aplikasi yang digunakan anak serta memastikan tidak ada aktivitas digital yang berpotensi membahayakan.
Ia menegaskan bermain gim bukanlah sesuatu yang dilarang, namun harus dilakukan secara bijaksana dengan mengatur waktu bermain dan tidak mudah bergabung dalam grup yang anggotanya tidak dikenal. Mengakhiri pemaparannya, Silvester berharap para pelajar dapat menjadi agen edukasi di lingkungan masing-masing dengan membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada teman-teman di sekolah.
"Kami berharap anak-anak memahami bahwa penggunaan game dan media digital harus dilakukan secara bijak. Jadilah pengguna internet yang cerdas, kritis, dan berani melindungi diri sendiri maupun teman-teman dari berbagai pengaruh negatif di ruang digital," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....