Bambu NTT Tembus Pasar Internasional: Wagub Dorong Jadi Identitas Baru Daerah

  • 22 Jul 2026 19:37 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Maggarai Barat – Potensi bambu Nusa Tenggara Timur (NTT) semakin menunjukkan daya saing di pasar internasional. Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, berhasil mengekspor sekitar 15 ribu batang bambu ke Polandia untuk pembangunan rumah khas NTT.

Keberhasilan ini mendapat apresiasi langsung dari Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, saat mengunjungi Rumah Bambu YBLL pada Selasa 21 Juli 2026 guna melihat perkembangan industri bambu yang kini menjadi salah satu sektor ekonomi kreatif berorientasi ekspor. Project Officer YBLL, Septiani Solfriyansi Maro, menjelaskan bahwa bambu yang diekspor terlebih dahulu melalui proses pengawetan di Manggarai Barat, kemudian dikirim ke Bali untuk menjalani karantina sebelum diberangkatkan ke Polandia.

Setelah tiba di negara tujuan, bambu kembali mendapatkan perlakuan sesuai standar setempat. Selain melayani pasar internasional, YBLL juga memasok kebutuhan dalam negeri, mulai dari sektor perhotelan, PT Haldin, hingga Pamudi Luhur Jakarta, dengan nilai omzet usaha yang kini mendekati Rp600 juta.

"Sebanyak kurang lebih 15 ribu batang bambu telah kami kirim ke Polandia untuk pembangunan rumah khas NTT. Sebelum diekspor, bambu diawetkan terlebih dahulu di Manggarai Barat, kemudian dikirim ke Bali untuk menjalani proses karantina sebelum diberangkatkan ke Polandia. Setelah tiba di sana, bambu kembali mendapatkan treatment sesuai standar negara tujuan," jelas Septiani.

Menurut Septiani, seluruh bambu dibeli langsung dari masyarakat di desa-desa Manggarai Barat sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Setelah disortir, bambu dipotong sesuai kebutuhan dengan panjang sekitar 2,6 meter, kemudian diproses menjadi berbagai produk konstruksi dan furnitur.

YBLL juga terus mengembangkan budidaya bambu melalui sistem HBL dengan usia panen ideal di atas tiga hingga lima tahun guna menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku. Karakter bambu Manggarai Barat yang berdinding lebih tebal dinilai sangat cocok untuk kebutuhan konstruksi dan furnitur berkualitas.

Meski memiliki prospek cerah, industri bambu masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama tingginya biaya operasional seperti pengangkutan bahan baku dari desa, biaya transportasi, dan harga perekat. Untuk meningkatkan kualitas produk, YBLL berencana menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam pengembangan teknologi serta pengujian kualitas bambu di laboratorium agar mampu memenuhi standar pasar global.

Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, mengapresiasi kreativitas dan inovasi generasi muda di YBLL yang berhasil mengangkat potensi bambu lokal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dan berdaya saing internasional. Menurutnya, keberhasilan ekspor ke Polandia membuktikan bahwa komoditas lokal dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi jika dikelola secara profesional dan berorientasi pada mutu.

Ia berharap NTT ke depan semakin dikenal sebagai daerah penghasil rumah bambu, sehingga kekayaan alam yang dimiliki dapat menjadi identitas daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perluasan pasar hingga tingkat dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....