Ende Hasilkan Ratusan Ton Sampah, Warga Diminta Berbenah

  • 08 Jul 2026 17:51 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Kabupaten Ende menghasilkan sekitar 250 ton sampah setiap hari, sementara Kota Ende menyumbang 30 hingga 40 ton per hari. Besarnya volume sampah itu dinilai menjadi alarm serius bagi pengelolaan lingkungan di daerah tersebut.

Data itu disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ende, Kanis Se, saat menjadi narasumber dalam Seminar Ekologi Kristen di Aula Paroki St. Yosef Freinademetz, Mautapaga, Ende, Sabtu 4 Juli 2026. Dalam forum itu, ia menyoroti persoalan sampah yang tidak lagi bisa dibebankan hanya kepada pemerintah.

Menurut Kanis, tanggung jawab penanganan sampah harus dipikul bersama oleh seluruh elemen. Masyarakat, lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, pemerintah, hingga pihak lain yang ikut menghasilkan sampah disebut memiliki peran yang sama penting.

Ia menjelaskan, sampah di wilayah kota maupun luar kota umumnya berasal dari rumah tangga, terutama sisa aktivitas memasak sehari-hari. Karena itu, pengelolaan sampah dinilai harus dimulai dari dapur dan lingkungan rumah masing-masing.

Kanis meminta warga membiasakan memilah sampah sebelum dibuang ke tempat penampungan. Sampah organik dan nonorganik, menurut dia, harus dipisahkan agar lebih mudah dikelola dan tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.

Sampah organik, lanjutnya, masih bisa dimanfaatkan kembali menjadi pakan ternak atau pupuk. Sementara sampah nonorganik seperti botol plastik, kaleng, kawat, dan besi bekas dapat dijual ke pengepul sehingga memiliki nilai ekonomi.

Ia menegaskan, kebiasaan mencampur seluruh jenis sampah ke dalam satu kantong lalu membuangnya sekaligus hanya akan memperberat beban pengelolaan. Pola seperti itu juga menutup peluang pemanfaatan kembali sampah yang sebenarnya masih bisa diolah.

Kanis juga menyoroti perilaku sebagian warga Kota Ende yang masih membuang sampah ke got atau drainase saat hujan turun. Ia menyebut kebiasaan tersebut sebagai perilaku buruk yang tidak bisa ditoleransi karena memperparah persoalan lingkungan.

Menurutnya, sampah yang dibuang ke saluran air tidak menyelesaikan masalah, tetapi justru memunculkan dampak baru. Drainase yang tersumbat dapat memicu luapan air ke jalan raya, mengganggu arus lalu lintas, bahkan merendam rumah warga di dataran rendah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....