Jurnalis Perempuan Labuan Bajo Bagikan Tantangan Mengawal Informasi Berimbang

  • 29 Jun 2026 23:56 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Labuan Bajo – Tiga jurnalis perempuan di Manggarai Barat, yakni Epy Wahab, Vera Bahali, dan Tari Rahmaniar, berbagi pengalaman mengenai tantangan, dinamika, sekaligus motivasi dalam menjalani profesi sebagai wartawan pada dialog interaktif di RRI Labuan Bajo, Senin, 29 Juni 2026.

Dialog tersebut mengangkat tema tentang peran perempuan dalam dunia jurnalistik, sekaligus menyoroti bagaimana jurnalis perempuan tetap mampu menjalankan tugas peliputan di tengah tantangan profesi yang semakin kompleks.

Ketiganya sepakat bahwa dunia jurnalistik bukan lagi profesi yang didominasi laki-laki. Menurut mereka, perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk hadir di lapangan, melakukan peliputan, hingga menyajikan informasi yang akurat dan berimbang kepada masyarakat.

Dalam dialog tersebut, para narasumber menceritakan realitas pekerjaan jurnalis yang tidak mengenal batas waktu. Aktivitas peliputan sering kali berlangsung hingga malam hari, menempuh perjalanan ke wilayah pelosok Manggarai Barat, bahkan menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu demi memperoleh informasi secara langsung.

Selain tantangan fisik, aspek keamanan juga menjadi perhatian. Sebagai perempuan, mereka dituntut memiliki keberanian sekaligus kewaspadaan saat meliput isu-isu yang sensitif, termasuk konflik sosial, demonstrasi, maupun persoalan agraria yang berkembang di daerah.

"Menjadi jurnalis perempuan memang memiliki tantangan tersendiri. Kami sering berada di lapangan hingga malam hari, menghadapi berbagai situasi yang tidak selalu mudah. Namun, selama bekerja secara profesional, berpegang pada kode etik, dan menjaga integritas, perempuan mampu menjalankan tugas jurnalistik dengan baik," ujar Epy Wahab.

Mereka juga menilai kehadiran jurnalis perempuan membawa perspektif yang berbeda dalam pemberitaan, terutama ketika mengangkat isu perempuan, anak, kesehatan, pendidikan, hingga persoalan sosial di Nusa Tenggara Timur.

Pendekatan yang lebih empatik dinilai menjadi salah satu keunggulan perempuan saat melakukan wawancara, khususnya terhadap korban kekerasan maupun kelompok rentan. Pendekatan tersebut memungkinkan informasi digali lebih mendalam tanpa mengabaikan sisi kemanusiaan narasumber.

"Perempuan memiliki kepekaan dan empati yang menjadi nilai tambah dalam proses peliputan. Ketika mewawancarai korban kekerasan, perempuan, anak-anak, atau kelompok rentan lainnya, pendekatan yang humanis sering kali membuat mereka lebih terbuka dalam menyampaikan cerita," kata Vera Bahali.

Di sisi lain, ketiganya mengakui profesi jurnalis juga menuntut kemampuan mengelola waktu dengan baik. Mereka harus mampu menyeimbangkan tanggung jawab pekerjaan dengan kehidupan pribadi serta membangun sistem pendukung yang kuat, baik dari keluarga maupun lingkungan kerja.

Pada akhir dialog, Epy Wahab, Vera Bahali, dan Tari Rahmaniar mengajak perempuan, khususnya generasi muda di Manggarai Barat, agar tidak ragu memasuki dunia jurnalistik maupun bidang komunikasi lainnya.

Mereka menilai perkembangan media digital membuka ruang yang semakin luas bagi perempuan untuk berkarya, menyampaikan gagasan, sekaligus menjadi bagian dari pembangunan melalui informasi yang berkualitas.

Menurut mereka, perempuan tidak hanya layak menjadi objek pemberitaan, tetapi juga memiliki peran penting sebagai subjek yang ikut mengawal kebijakan publik, menyuarakan kepentingan masyarakat, serta memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan melalui karya jurnalistik yang berintegritas.

Di tengah pesatnya pembangunan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata super prioritas, kehadiran jurnalis perempuan dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan informasi agar tetap akurat, berimbang, dan berpihak pada kepentingan publik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....