BMKG Prediksi Puncak Kemarau di NTT Terjadi hingga September 2026
- 28 Jun 2026 19:10 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) akan mengalami puncak musim kemarau pada periode Juli hingga September 2026. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal tahunan.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan wilayah selatan NTT mulai memasuki puncak kemarau sejak Juli 2026. Selanjutnya, sebagian besar wilayah NTT diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Agustus hingga September mendatang.
Menurut Faisal, kondisi ini perlu diantisipasi sejak dini oleh pemerintah daerah maupun masyarakat. Langkah antisipasi diperlukan untuk menjaga ketersediaan air bersih, ketahanan pangan, hingga mengurangi dampak gangguan kesehatan akibat cuaca kering berkepanjangan.
BMKG mencatat puncak kemarau pada Juli 2026 terjadi di 83 Zona Musim atau sekitar 12,26 persen wilayah Indonesia. Salah satu wilayah yang diprediksi terdampak pada periode tersebut adalah NTT bagian selatan.
Sementara pada Agustus 2026, puncak musim kemarau diperkirakan meluas ke sebagian besar wilayah NTT. Kondisi serupa juga diprediksi masih berlangsung hingga September 2026 dan mencakup sebagian besar daerah di provinsi kepulauan tersebut.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dan lebih kering dibanding rata-rata normal. Kondisi tersebut dipengaruhi peluang terjadinya fenomena El Nino yang diprediksi bertahan hingga awal tahun 2027.
BMKG memprediksi peluang El Nino kategori moderat mencapai 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen. Dampaknya diperkirakan mulai terasa selama periode musim kemarau hingga pertengahan Oktober 2026, termasuk di wilayah NTT yang dikenal memiliki curah hujan relatif rendah.
Sejumlah sektor di NTT dinilai perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca ekstrem kering tersebut. BMKG meminta sektor pertanian menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan serta membutuhkan lebih sedikit air.
Selain sektor pangan, pemerintah daerah juga diminta memperkuat pengelolaan sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi air bersih. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.
BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah agar mewaspadai peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan serta potensi memburuknya kualitas udara yang dapat memicu kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Koordinasi lintas sektor bersama BPBD dan pemangku kepentingan lain disebut terus dilakukan untuk memperkuat langkah mitigasi.
Masyarakat diimbau rutin memantau informasi cuaca dan iklim melalui saluran resmi BMKG agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. BMKG juga meminta masyarakat di wilayah NTT mulai melakukan langkah penghematan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....