Petani Flores Timur Tertarik Terapkan Tumpangsari usai Magang GAP di TTS

  • 24 Jun 2026 15:37 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Flores Timur – Petani peserta program Good Agricultural Practices (GAP) asal Kabupaten Flores Timur mulai melirik sistem hortikultura berbasis tumpangsari setelah mengikuti magang pertanian di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Pola tanam tersebut dinilai lebih adaptif, produktif, dan mampu memberi hasil panen berkelanjutan dibanding sistem monokultur yang selama ini umum diterapkan.

Ketertarikan itu muncul setelah para peserta melihat langsung praktik pertanian di sejumlah desa di TTS selama kegiatan magang yang berlangsung pada 8 hingga 21 Juni 2026. Sistem tumpangsari memungkinkan beberapa jenis tanaman dengan usia panen berbeda ditanam bersamaan dalam satu lahan.

Sebanyak 89 peserta mengikuti program tersebut, terdiri dari 79 utusan Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan 10 peserta dari Caritas Indonesia. Mereka menjalani pembelajaran pertanian di Desa Tubuhue, Desa Kuatae, Desa Oenlasi, dan Desa Tublopo.

Program magang terselenggara melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Flores Timur bersama Plan International, Caritas Indonesia, Krisna, GIC, dan BPR. Selama dua pekan, peserta tidak hanya mempelajari teknik budidaya, tetapi juga strategi pengelolaan pertanian berkelanjutan.

Sistem tumpangsari menjadi salah satu materi yang paling menarik perhatian peserta karena dinilai mampu memaksimalkan penggunaan lahan. Dalam pola tersebut, tanaman umur pendek, menengah, dan panjang ditanam secara bersamaan sehingga panen dapat berlangsung secara bertahap.

Dengan sistem itu, petani dapat memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga sekaligus memperoleh pemasukan rutin dari hasil panen yang berbeda waktu. Tanaman jangka panjang juga dipandang dapat menjadi tabungan ekonomi bagi keluarga petani.

Selain mempelajari pola tanam, peserta juga mendapat pelatihan teknik pengolahan lahan miring menggunakan metode bingkai A. Metode itu dinilai efektif mencegah erosi sekaligus membantu penataan lahan pertanian di wilayah berbukit.

Para peserta juga belajar memanfaatkan tanaman hias sebagai pengusir hama alami. Petani di TTS dinilai lebih aktif membaca tren pasar sebelum menentukan jenis tanaman dan waktu tanam sehingga hasil produksi lebih mudah terserap pasar.

Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli, berharap pengalaman selama magang tidak berhenti pada tahap pembelajaran semata. Pemerintah daerah menargetkan sedikitnya 30 persen peserta mampu menjadi contoh sukses pengembangan hortikultura di Flores Timur.

“Ukuran keberhasilan program ini bukan pada pujian atau cerita setelah pulang dari Soe, melainkan pada bukti nyata di lapangan,” kata Ignasius Boli.

Program magang GAP tersebut diharapkan menjadi langkah awal lahirnya petani Flores Timur yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan kebutuhan pasar. Pemerintah juga berharap pendekatan pertanian berkelanjutan dapat meningkatkan produktivitas lahan sekaligus kesejahteraan masyarakat tani di daerah itu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....