ACIL Kembangkan Inovasi Ecobrick dan Ecosofa di Kabupaten Ende
- 19 Jun 2026 17:11 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Upaya pengurangan sampah plastik di Kabupaten Ende terus dikembangkan melalui berbagai inovasi berbasis masyarakat. Salah satunya adalah pemanfaatan ecobrick yang mulai diperkenalkan oleh Komunitas Anak Cinta Lingkungan (ACIL) Ende sebagai solusi pengelolaan sampah sekaligus peluang ekonomi kreatif.
Pegiat ACIL Ende, Cahyadi, dalam program Obras (Obrolan Spada) Pro 2 RRI Ende, Jumat, 19 Juni 2026, mengatakan bahwa selain edukasi lingkungan di sekolah dan aksi bersih pantai, komunitasnya juga aktif memperkenalkan metode pengolahan sampah plastik menjadi ecobrick yang dapat dimanfaatkan kembali menjadi berbagai produk bernilai guna.
Menurutnya, sosialisasi pembuatan ecobrick telah dilakukan di sejumlah desa, termasuk Desa Ndori, dengan melibatkan kelompok masyarakat dan pemerintah desa sebagai bagian dari upaya mengurangi sampah yang berpotensi mencemari laut dan lingkungan.
“Ecobrick ini berisi botol plastik yang diisi padat dengan sampah plastik bersih. Ini bukan hanya soal pengelolaan sampah, tetapi juga bisa menjadi peluang ekonomi,” ujarnya.
Cahyadi menjelaskan bahwa di beberapa negara, produk ecobrick telah dipasarkan secara daring dengan harga berkisar Rp10.000 hingga Rp25.000 per botol, tergantung ukuran dan kualitasnya.
Selain ecobrick, ACIL juga memperkenalkan inovasi lain berupa ecosofa, yakni pemanfaatan botol ecobrick yang dirangkai menjadi kursi atau perabot sederhana yang memiliki nilai guna lebih tinggi.
Meski demikian, ia mengakui bahwa penerapan ecobrick di Kabupaten Ende masih berada pada tahap edukasi dan belum dilakukan secara masif. Namun sejumlah sekolah dan perguruan tinggi telah mulai dilibatkan dalam pelatihan dan praktik pembuatannya.
“Kami terus menekankan bahwa ini bisa menjadi bagian dari ekonomi sirkular jika dikembangkan lebih serius,” katanya.
Selain memperkenalkan inovasi pengolahan sampah, ACIL juga terus mengampanyekan perubahan perilaku masyarakat melalui kebiasaan sederhana yang ramah lingkungan. Masyarakat diimbau membawa wadah makanan sendiri, mengurangi penggunaan styrofoam, serta tidak membuang sampah ke selokan maupun ruang publik.
Cahyadi juga mengingatkan masyarakat agar menghindari kebiasaan membakar sampah, termasuk ban bekas, karena dapat menghasilkan zat berbahaya seperti karbon monoksida yang berdampak buruk bagi kesehatan manusia.
“Lingkungan yang sehat bukan hanya soal bersih dari sampah, tetapi juga bebas dari polusi udara,” ujarnya.
Ia berharap inovasi ecobrick yang diperkenalkan ACIL Ende semakin dikenal dan diterapkan secara luas oleh masyarakat. Dengan demikian, upaya pengurangan sampah plastik dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi kreatif berbasis lingkungan di Kabupaten Ende.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....