Erupsi Lewotobi Jadi Alarm Kesiapsiagaan Bencana bagi Warga NTT

  • 17 Jun 2026 18:08 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende- Pengalaman erupsi gunung api di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Gunung Lewotobi, menjadi pelajaran penting tentang kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana alam. Kepanikan yang terjadi saat erupsi menunjukkan masih perlunya penguatan mitigasi bencana hingga ke tingkat desa.

Hal tersebut disampaikan Rofinus Monteiro saat menjadi narasumber dalam program Obrolan Spada (Obras) Programa 2 RRI Ende, Rabu 17 Juni 2026, di Studio Pro 2 RRI Ende. Ia menjelaskan bahwa pada awal erupsi Gunung Lewotobi pada 2023 hingga 2024, masyarakat mengalami kepanikan karena peningkatan aktivitas gunung terjadi secara tiba-tiba. Berbeda dengan beberapa gunung api lain yang kerap menunjukkan erupsi kecil sebagai tanda awal, aktivitas Lewotobi membuat banyak warga tidak siap menghadapi kondisi darurat. Menurutnya, kepanikan tersebut menyebabkan proses evakuasi berlangsung tidak terkontrol. Warga berupaya menyelamatkan diri secara bersamaan sehingga situasi di lapangan menjadi kacau dan meningkatkan risiko keselamatan. Ia juga mengungkapkan, sebagian masyarakat yang kini tinggal di kawasan sekitar Gunung Lewotobi merupakan warga yang sebelumnya pernah direlokasi akibat bencana pada masa lalu. Namun pengalaman tersebut belum sepenuhnya membentuk kesiapsiagaan yang memadai ketika erupsi kembali terjadi. Selain faktor kesiapsiagaan, Rofinus menilai kondisi ekonomi masyarakat juga menjadi tantangan dalam upaya mitigasi bencana.

Banyak warga memilih tetap tinggal atau kembali ke kawasan rawan karena menggantungkan hidup pada kebun dan lahan pertanian yang berada di sekitar gunung, ujarnya. Menurutnya, masyarakat yang kembali ke wilayah rawan seharusnya tetap menjaga kewaspadaan dan memahami bahwa erupsi besar dapat terjadi sewaktu-waktu.

Karena itu, setiap desa perlu memiliki titik kumpul yang jelas, jalur evakuasi yang mudah diakses, serta sarana transportasi yang siap digunakan saat keadaan darurat. Rofinus juga menekankan pentingnya latihan evakuasi secara berkala agar masyarakat terbiasa menghadapi situasi darurat.

Dengan latihan yang rutin, warga dapat bertindak lebih tenang dan terorganisir ketika bencana terjadi, katanya. Ia berharap pengalaman erupsi Gunung Lewotobi menjadi momentum untuk membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat.

Menurutnya, pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dan warga perlu memperkuat edukasi serta simulasi kebencanaan agar masyarakat lebih siap menghadapi potensi erupsi maupun bencana lainnya di masa mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....